PILIHANTAKYAT.ID, Jakarta-Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Islam di Indonesia mulai melakukan berbagai persiapan. Tidak hanya soal kebutuhan bahan pokok, tetapi juga kesiapan spiritual, fisik, hingga finansial. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya akan menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat, yang menjadi rujukan resmi dimulainya ibadah puasa.
Secara spiritual, sejumlah organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menganjurkan umat Islam memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, serta mulai membiasakan puasa sunnah sebelum Ramadhan. Langkah ini dinilai penting untuk melatih ketahanan fisik sekaligus mempersiapkan mental menghadapi ibadah selama sebulan penuh.
Selain itu, penyusunan target ibadah juga menjadi bagian dari persiapan. Sebagian orang menetapkan target khatam Al-Qur’an, meningkatkan sedekah, atau memperbaiki kualitas shalat wajib dan sunnah. Momentum Ramadhan sering dimaknai sebagai kesempatan memperbaiki diri secara menyeluruh.
Dari sisi kesehatan, penyesuaian pola makan dan tidur mulai dilakukan. Mengurangi konsumsi gula berlebih serta memperbanyak asupan serat dan cairan menjadi anjuran umum. World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi dan hidrasi untuk mempertahankan daya tahan tubuh saat berpuasa, terutama bagi kelompok rentan dan mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.
Persiapan finansial pun tak kalah penting. Masyarakat diimbau menyusun anggaran kebutuhan Ramadhan secara bijak agar tidak terjadi pemborosan. Selain kebutuhan harian, kewajiban zakat fitrah dan anjuran memperbanyak sedekah menjadi perhatian tersendiri bagi banyak keluarga.
Dalam hal keamanan pangan, masyarakat juga diingatkan memastikan produk makanan dan minuman yang dikonsumsi memiliki izin edar resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM). Langkah ini penting untuk menjamin keamanan konsumsi, terutama saat aktivitas belanja meningkat menjelang Ramadhan.
Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar perubahan jam makan, melainkan momentum refleksi dan penguatan solidaritas sosial. Dengan persiapan yang matang baik spiritual, fisik, maupun sosial, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan bermakna.




