Kontributor: Selendang Sulaiman
Rabu, 20 Juni 2012 / 02.44
“Kebingungan kita Nun, adalah kebingungan musim kepada malam yang menolak dingin!” Aku jadi ingat pesang singkat dari seorang teman di Bandung, Sipulan K. Langka. Dan aku menuliskannya di sini, sebab pesan singkat itu persis dengan kebingungan diriku menunggui malam; kebingunan kosong yang berkepanjangan.
Kebingunanku ini, cintaku, adalah kebingungan kantuk kepada mata yang menolak tidur. Malam ini pening senantiasa mengisi hening yang dingin. Kelelahan menjadi lebih bermakna pada perbait kalimat dalam paragraf-paragraf kaku dari catatan kelu ini. Kepadamu aku meminta kekuatan atas batin. Selain kopi, sebagang lisong, dan belas kasih Tuhan.
Sebentar lagi, fajar akan menjelma udara segar yang lebih menekan sendi-sendi di sekujur tubuh. Bisik-bisikan rasa malas pun akan hadir bersama cericit burung kecil di dahan-dahan pohon mangga. Bayang-bayang mimpi menari-nari di bola mata yang berkunang-kunang. Semoga aku tak terlelap sebelum kewajibanku sempat tertunaikan. Dengan catatan ini, aku ingin melatih mata setia pada pagi, senja, dan malam. Meski kini hanya sekedar bahasa yang tak lebih dari selembar kabar yang dikobarkan lewat keluh padamu.
Kabarku padamu tidak untuk simpatimu yang murahan. Aku ingin berbagi kekuatan dalam diri dan hidup. Aku ingin kau kuat atas kekuatan dalam dirimu. Kau telah mengetahuinya. Hanya saja kau masih ragu dan aku mencoba meyakinkanku.
Dengan catatan ini, aku juga merasa, betapa penting aku mengulang pengalaman masa kecilku padamu lagi di sini, biar nanti tidak hanya kau yang mengangguk kecil dan bergeleng-geleng kepala mendengarnya,. Aku ingin berbagi lewat hati yang dibisikkan nurani dengan catatan cemas ini, meski aku mesti melawan setiap lelah menjarah buah-buah sinar kekuatan dalam malam-malammu ini.
Ceritaku padamu tentang aku bagi mereka yang menggauliku, mereka yang suka mendengar igauan-igauan kongyolku dan buat mereka yang memaksakan diri untuk membaca lembar-lembar catatanku ini.
Beberapa jam yang lalu, seorang sahabat menyodorkan pertanyaan padaku usai membaca bagian akhir dari catatan ini, dia bertanya, “Sejak kapan kau suka sastra dan menuliskannya,” aku tersenyum mendengarnya.
***
21.03
Terlampau jauh catatan ini mengalir, semakin dalam keluh tenggelam dalam palung cerita-cerita gelap kurangkap dengan retas cahaya remang dari lubuk sinar cintaku. Tanpa harus aku gariskan batas-batas catatan kelam ini, sudah tentu, catatan keluh akan aku alirkan ke lembah-lembah pengalaman lahir dan batin. Bukankah saudara juga memiliki pengalaman yang ingin sekali saudara abadikan menjadikisah untuk didonngengkan pada yang akan hidup setelah saudara. Hanya saja, saudara tak serajin aku menuliskannya setiap keluh kesah daripengalan hidup.
Aku tidak ingin bersenda gurau di sini, lalu aku akan tertawa bahak dengan puas. Ya, menertawakan diri sendiri yang angkuh. Pun tidak menutup kemungkinan saudara juga tidak jarang bersikap angkuh. Barangkali telah ditakar sejak dalam kandung sang ibu, keangkuhan itu tumbuh dalam diri setiap manusia. Walaupun kesadaran diri, kebersahajaan hati dan pikiran membuat manusia bisa berbuat lebih arif dan bijak dalam berkehidupan. Dengan catatan ini, aku dan saudara akan saling jujur untuk senantiasa bersikap bijak, termasuk dalam membaca catatan keluh ini.
Boleh kita saling berperasangka lewat catatan keluh ini. Boleh juga, jika saudara tak protes apapun. Itu berarti saudara adalah teman karibku sebagai pembaca budiman dan aku sendiri adalah pebulis budaman pula. Tetapi ada baiknya jika saudara tak hanya diam saha jika baca catatan keluh ini. Setidaknya saudara sedikit atau banyak mengernyitkan kening (tak paham?) di salah satu kalimat yang (barangkali) menyinggung perasaan saudara. Aku tidak sedang menyinggung siapapun dalam catatan keluh ini apalagi saudara. Aku sebatas menulis dengan kejujuran dan kesombongan tentang segala aktifitas yang aku lakukan, mungkin pernah dilakukan bersama saudara.
Saudara memang teman karibku yang baik. Sampai di sini, saudara masih merasa nikmat membaca kalimat-kalimat keluh kesahku. Aku sengaja menulis catatan ini dengan segala kemungkinan yang akan tumbuh di benak dan pikiran saudara, selebihnya catatan ini aku tulis dengan materi-materi yang bisa menyentuh perasaan saudara. Aku setidaknya telah berhasil membuat saudara tertawa, tersenyum, dan mencibir di sela-sela kata-kata yang tak masuk akal buat saudara. Betapa tidak, toh aku menulis tanpa akal pula.
Perlu juga saudara ketahui, tentang saat-saat dimana aku menulis catatan keluh ini, yang belum sampai pada inti cerita yang ingin aku kisahkan pada saudara sekalian, pembaca yang budiman. Tepat di titik kalimat tadi, aku belum sempat menunaikan tidur yang nikmat. Sejak hari kemarin, tadi malam semalam suntuk seperti biasa (insomnia) aku bergadang. Paginya sempat menulis catatan keluh ini. Membaca buku karangan Subagio Sastrowardoyo, “Sosok dalam Sajak”, menikmati puisi karya Dami N.Toda.Lalu sebentar mengantar cintaku pergi ke kampus. Kemudian mengajak Pablo main ke rumah tetangga. Sebentar lalu istirahat di kamar setelah selesai mandi, dengan buku catatan harian karya Fyodor Dostoyvsky “Catatan dari Bawah Tanah”. Aku tenangkan pikiran kacau karena belum sempat ridur. Cintaku temani aku di samping tubuhku.
Siang menjelang, aku dan cintaku pergi makan lalu mengantarnya pergi lagi ke kampus. Aku juga kek kampus untuk ujian sia-sia. Selesai ujian, pergi ke warung kopi, tempat catatan ini selalu aku tulis buat saudara pembaca budiman. Sejenak baca karya Dostoyvsky. Selesai.Berangkat ke Mezz Poll buat main Billiard. Sambil menyempatkan diri menulis. Selesai. Pergi ke warung kopi yang lain. Menulis lagi. Saudara juga di sini.
***
Selamat, Saudara telah berhasil melewati paragraf demi paragraf yang melelahkan tadi. Biar saudara tidak benar-benar sebal padaku. Bacalah puisi yang aku tulis buat sesama manusia. Bacalah jika sudah membacanya. Puisi ini tidak sulit dinalar:
Janda Tua Panjahit Nasib
perempuan tua membawa keranjang berisi peralatan sol sepatu
ia duduk di kursi reot pojok ruang tengah rumahnya yang tua pula
seperti biasa, figura berurukan 4R diambilanya dari kerangjang
lalu ia usap penuh perasaan dengan ujung kerudungnya yang kusam
sesaat setelah menggelar peralat sol sepatu di atas meja
ia awalai pekerjaan ngesol sepatu dengan menyemir
sampai warna sepatu tua sisa perang melawan penjajah
menjadi kitan hitam, kian hitam, berkilat-kilat di matanya
seterusnya, ia masukkan berulang-ulang benang hitam
ke lubang jarum agak tumpul dan penuh karatan
dengan menyipitkan sebelah mata yang keriput kelopaknya
perlahan, sungguh pelan-pelan, belum masuk, diulanginya lagi
terus ia arahkan ujung benag yang telah ia basahi dengan ludah
ke lubang jarum karatan; ke lubang nasibnya sendiri
Yogyakarta, 2011-2012
Bersambung…. baca selanjutnya…. #17
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


