News  

Berbeda Penanggalan, Jamaah Aboge Probolinggo Khidmat Rayakan Idul Adha

PILIHANRAKYAT. ID, Probolinggo-Ribuan Jamaah dari aliran Aboge (Alif Rebo Wage) di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menggelar perayaan Hari Raya Idul Adha secara khidmat pada Minggu (8/6/2025).

Perayaan ini berlangsung berbeda dua hari dari ketetapan pemerintah yang menetapkan Idul Adha jatuh pada Jumat (6/6/2025).

Sekitar 1.000 jamaah dari berbagai daerah melaksanakan Salat Idul Adha di Musala Al-Barokah, Dusun Krajan, Desa Leces, Kecamatan Leces, mulai pukul 06.30 WIB. Mereka mengikuti penanggalan Aboge yang dihitung berdasarkan kitab Mujarrobat dan metode Sarpatji.

“Kami mengikuti hitungan Aboge yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Menurut perhitungan kami, 10 Zulhijjah jatuh pada Ahad Legi hari ini,” ujar Kyai H. Ahmad Zaini, sesepuh Jamaah Aboge Leces

Baca juga  PDF Menjadi Terobosan Baru Di Pondok Pesantren

Pelaksanaan salat Idul Adha berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Tahun ini, penyembelihan hewan kurban tidak dilakukan karena keterbatasan ekonomi. Sebagai gantinya, jamaah menggelar tasyakuran dengan membawa aneka makanan untuk disantap bersama.

“Kalau ada rezeki, ya kita kurban. Kalau belum ada, kita tetap berkumpul membawa makanan, berbagi berkah,” tutur Mbah Saminah, warga Desa Sumberkedawung

Meski perayaan berlangsung di hari yang berbeda, suasana toleransi dan harmoni tetap terjaga di masyarakat. Warga sekitar yang telah lebih dulu merayakan Idul Adha menghormati tradisi Aboge. Aparat kepolisian dan pemerintah desa juga memantau pelaksanaan kegiatan.

Baca juga  Satu Gol Udinese Cukup untuk Menekuk Roma

“Perbedaan ini sudah menjadi tradisi. Masyarakat di sini sudah sangat memahami dan saling menghormati,” ujar Kapolsek Leces AKP Abdul Kholik

Warisan Penanggalan Aboge

Kalender Aboge atau Alif Rebo Wage menggunakan sistem perhitungan Sarpatji, yaitu metode yang mengatur penentuan hari-hari besar Islam berdasarkan siklus unik mereka. Selain Idul Adha, perayaan Idul Fitri dan awal Ramadan bagi Jamaah Aboge juga kerap berbeda dari kalender Hijriyah resmi.

Keberagaman penanggalan ini tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya dan spiritual yang terus dijaga di tengah masyarakat Probolinggo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *