Bisik Bisik Cinta di Jendela #8

Kontributor: Selendang Sulaiamn 

Kamis, 14 Juni 2012 / 15:29 

INSOMNIA. Lebih tepat bergadang di warung kopi sambil bertamasya ke dalam dunia maya. Hampir setiap malam dan hampit setia hari nongkrong di warung kopi. Seperti catatan-catatan harin ini lebih banyal tumpah – dituliskan di warung kopi. Bahkan anak-anak puisiku pun lahir dari warung kopi ke warung kopi. Kamalasan juga timbul dari tempat-tempat yang nyaman untuk melepas penat pikiran, keresahan batin, dan keheningan sepi.

Jalan hidup yang begitu-begini saja sejak kurang lebih dua sampai tiga tahun silam ini. Entah sampai kapan akhirnya. Aku hanya bisa mengira-ngira,dengan sebuah keyakinan bahwa kelak ini semua akan berakhir secara perlahan setelah tujuan hidup mulai menemui kejelasan. Tentu tidak dengan cara yang sederhana, butuh usaha maksimal untuk mencapainya. Sebagaimana yang telah aku tuliskan di waktu yang lalu di buku catatan sebelumnya bahwa, komitment dan totalitas-lah yang akan bisa meredam pekerjaan ambiguw ini. Begitu pula dengan cintaku padamu yang beberapa minggu ini selalu hiruk sendiri dalam ketegangan – yang seolah-olah kita sengaja membuatnya.

Foto Mutiara Arum/ Gerimis di Luar Jendela dan Rindu di Dalam

Pagi ini udara segar terasa. Dingin begitu bersahabat dengan kulit badan, bengkak pori-pori mengyerap zat embun yang sehat, mengirimnya ke sel-sel syaraf bersama aliran darah yang deras alirnya dari jantung ke seluruh organ tubuh. Aku merasa dan sangat percaya bahwa, pagi hari adalah awal setiap manusia dan hampir seluruh binatang memulai aktifitasnya. Tetapi, ketidakberdayaan akan kebiasaan yang kurang baik terlampau menguasai seluruh bagian dari diriku.

Baca juga  Khám Phá Zik 88 – Bí Quyết Thành Công Trong Kinh Doanh

Aku sudah selalu berusaha, selalu. Namun terlalu sukar untuk berhasil. Bangun pagi, menjadi hal yang paling sulit buatku kini dan sejak beberapa yahun silam. Tentu begitu banyak tugas dan kewajiban yang prinsipil menjadi terlantar. Sialnya, diri ini tidak mau untuk benar-benar menyesal, setidaknya benar-benar melakukan usaha untuk memperbaikinya. Baif bukan, ketika diri telah dikuasai dan dikendalikan oleh kecongkakan dan kebebalan hati. Sungguh, ingin aku kembali.

Ketidak berdayaan ini, membuat separuh lebih dariimpianku menjadi nihilhasilnya. Walaupun seringkali aku akan berapologi bahwa yang aku jalani merupakan proses. Ya, proses. Termasuk cintaku paramu. Kembalilah.

“Hidup memang fana, Ma. Tetapi keadaan tak berdaya membuat diriku tidak ada. Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara, dijauhi ayah bunda dan ditolak para tetangga. Atau aku terlantar di pasar. Aku berbicara, tetapi orang-orang tidak mendengar, mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita, Aku takut, aku marah, aku gemetar. Namun gagal menyusun bahasa.” Persis demikian yang aku alami dengan suasana batin atau dengan isi (yang kupahami) dari bait sajak “Hai Ma!” karya penyair Burung Merak, W.S. Rendra.

Aku sangat hafal seluruh isi sajak itu. Membacanya dari panggung-panggung untuk aku sampaikan pada orang-orang yang tida jauh berbeda denganku jalan kehidupannya. Dan lebih banyal lagi, kubacakan untuk hati dan batinku sendiri di tengah persoalan hidup yang begit kompleks kujalani. Tnetu pada kahirnya, aku akan gagal menyusun bahasa.

Aku bukan penyair yang mampu menterjemahkan sekian masalah kehidupan. Bukan pulaseorang dramawan yang lihai bermain sandiwara di atas panggung untuk menyampaikan pesan kehidupan para penonton. Pun aku bukanlah aktivis yang raji turun jalan untuk berteriak menyuarakan suara rakyat. Aku hanya seorang pemalas lahir batin yang sangat mencintaimu.

Baca juga  Nhận định cơ hội giành 3 điểm của Brighton Cùng nhà cái keovip - Phân tích chiến thắng khả thi của đội bóng sương mù

Pagi ini, aku ingin menulis dengan segala keterbatasanku sebagai lelaki yang teramat mencintaimu. Tentu, apa yang aku lakukan ini tidak akan berarti apa-apa untuk dirimu (entah sudah siao mencintaiku atau belum). Aku hanya yakin dengan keterbatasanku ini bahwa, kelakimpian akan aku peluk bersamamu (atau hanya untukmu).

Sudah banyak puisi-puisi yang aku tulis buatmu. Puisi kutulis demi cintaku padamu. Aku sudah tidak mau hirau dengan penyair-penyair lain seusiaku yang tidak sepakat dengan hal-hal yang berwangi cinta atau (naifnya) yang berasa mesra dan romantis. Bukankah kau lebih tahu siapa diriku ini? Lelaki yang gandrung mengoleksi cerita-cerita cinta dari masa lalu. Kaupun sedikit tenang jika aku mengkisahkannya padamu.

Betapa benar, ungkapan mereka buatku, bahwa aku lelaki yang romantis dan selalu mesra untuk berkekasih. Tetapi mereka juga bilang, jika aku kurang realistis sebagai kekasih. Aku pun sebenarnya sepakat dengan pernyataan-pernyataan sederhanamu (buatmu itu ungkapan kesal dan amarah) bahwa, hidup mesti realistis dan puisi-puisiku tidak akan sanggup untuk mengenyangkan perutmu yang lapar. Bahkan aku sangatpeka kenapa kamu meminta hubungan kita untuk segera diakhiri.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #9

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *