Rebecca Harkins-Cross Termotivasi dari Informasi oleh Iman Budi Santosa

YOGYAKARTA – Satellite Event 2015 @Jogja dengan diskusi “Manusia, Budaya, Kota” tadi malam di Ayumi Cafe, jl. Nologaten (5/11) menjadi ajang untuk saling mengambil motivasi dari kisah proses kriatif dan tradisi diskusi baik di Yogyakarta maupun di Australia.

Tidak seperti penulis-penulis yang datang dari banya negara ke Yogyakarta, di mana mereka lumrahnya cenderung berbagi kisah proses kreatif dengan tujuan memberi motivasi bagi penulis-penulis muda di Yogyakarta. Rebeca justru mangambil motivasi dari komunitas-komunitas sastra di Yogyakarta dengan tradisi diskusinya yang kuat.

Rebecca juga menyampaikan hal yang serupa dengan Sam Cooney terkait kebudayaan Australia. Namun yang penting dari pernyataan Rebecca adalah masalah tema-tema menarik dan baik untuk ditulis eperti masalah sosial politik. “Soal politik sebenarnya bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis karya sastra,” begitu ungkap Rebecca. Hal tersebut disampaikan oleh Rebecca sesuai dengan tema-tema yang diusung di UWRF 2015 di Bali beberapa hari lalu (28 Oktober-1 November 2015).

Baca juga  Tragis! Prostitusi Online Artis Kembali Terjadi di Malang
Foto Rebecca Harkins-Cross in UWRF 2015/ doc
www.ubudwritersfestival.com

Rebecca memberi saran pada hadirin yang hadir dalam acara Satellite Event 2015 @Jogja di Ayumi Cafe tadi malam, selain aktif di komunitas sebaiknya setiap diri penulis harus memiliki waktu untuk sendiri. Tujuannya adalah supaya memiliki waktu khusus untuk berkarya. Sebab apabila terlalu tergantung dan bergantung pada komunitas, biasanya tidak akan memiliki waktu untuk berkarya sesuai dengan sense yang dimilikinya.

Bagi Rebecca, “Proses menulis adalah proses yang berkelanjutan. Proses menulis adalah peroses belajar yang terus-terus menerus. Sebab untuk menjadi penulis yang baik memang harus konsisten dan berkelanjutan. Apabila penulis itu bisa berproses secara berkelanjutan, maka ia akan dapat mengambil pejalaran dari karya-karya yang telah ditulis sebelumnya.” Jadi, bukan hanya proses yang berkelanjutan, tetapi juga ide itu sendiri.

Baca juga  Vicky Nitinegoro Divonis Negatif, Begini Keterangan Polda

Selain itu, Rebecca juga menyampaikan kepada para penulis muda di Yogyakarta untuk berada dalam satu titik sebagai penulis yang kritis terhadap fenomana sosial, khususnya di media massa. Jika penulis telah mampu memberi kritik terhadap situasi dan kondisi dari masyarakatnya, tentunya ia akan punya ide baik untuk dituliskan.

Selanjutnya, jika tulisan itu sudah menjadi. Maka pilihlah media publikasi di mana redakturnya sangat menghargai sebuah karya. Supaya tulisan yang dikirimkan dan dimuat di media termaksud dapat berguna bati para pembaca. (Sel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *