PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menguat pada kuartal I 2026. Sejumlah indikator awal menunjukkan perbaikan aktivitas konsumsi domestik, investasi, serta kinerja ekspor di tengah stabilitas inflasi dan nilai tukar. Momentum awal tahun dinilai menjadi fondasi penting bagi pencapaian target pertumbuhan sepanjang 2026.
Laporan terbaru Bank Indonesia menyebutkan permintaan domestik tetap terjaga, terutama dari konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. BI menilai stabilitas makroekonomi yang terpelihara—termasuk inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran—menjadi penopang daya beli masyarakat. Otoritas moneter itu juga mencatat aliran modal asing mulai kembali masuk seiring meredanya ketidakpastian global.
Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan Republik Indonesia melaporkan realisasi belanja negara pada awal tahun diarahkan untuk mendukung program prioritas dan perlindungan sosial. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa menyatakan pemerintah akan menjaga defisit dan pembiayaan secara hati-hati guna memastikan kesinambungan fiskal sekaligus menopang pertumbuhan.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat perbaikan pada sejumlah indikator produksi dan perdagangan. Ekspor nonmigas menunjukkan tren positif, terutama dari komoditas berbasis sumber daya alam dan manufaktur tertentu. Di sisi lain, impor bahan baku dan barang modal mengindikasikan aktivitas industri yang mulai meningkat.
Sektor manufaktur dan hilirisasi sumber daya alam diperkirakan menjadi motor pertumbuhan pada awal tahun ini. Pemerintah melanjutkan kebijakan hilirisasi mineral dan penguatan rantai pasok domestik untuk meningkatkan nilai tambah. Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan ikut terdorong oleh peningkatan arus barang dan aktivitas logistik.
Di sektor keuangan, intermediasi perbankan tumbuh stabil. Data BI menunjukkan pertumbuhan kredit tetap solid, terutama pada segmen korporasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Likuiditas perbankan juga dinilai memadai untuk mendukung ekspansi usaha.
Meski demikian, sejumlah risiko eksternal tetap membayangi, seperti perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas. Pemerintah dan otoritas moneter menyatakan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas serta memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tetap berada pada jalur yang positif.




