Opini  

Isra’ Mi’raj: Awal Kewajiban Salat Lima Waktu bagi Umat Islam

PILIHANRAKYAT.ID, Peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya menggambarkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga menjadi awal ditetapkannya kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam hingga saat ini.

Mengutip dari NU Online, Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 kenabian, di tengah masa sulit yang dialami Rasulullah SAW. Pada masa itu, Nabi Muhammad kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya, yakni istri tercinta Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan.

Menurut riwayat yang dikenal luas dalam literatur Islam, Isra’ Mi’raj terbagi menjadi dua peristiwa. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina dalam satu malam. Sementara Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Dalam peristiwa Mi’raj inilah, Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban salat bagi umat Islam. Pada awalnya, Allah mewajibkan salat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Perintah ini diterima Rasulullah SAW tanpa perantara malaikat, sebuah keistimewaan yang jarang terjadi dalam proses turunnya syariat Islam.

Baca juga  Habibie: Antara Indonesia dan Ilona

Namun, ketika Rasulullah SAW turun dan bertemu dengan Nabi Musa AS di salah satu lapisan langit, Nabi Musa memberikan nasihat agar Rasulullah memohon keringanan. Nabi Musa menilai kewajiban 50 kali salat akan terasa berat bagi umat Islam, berdasarkan pengalamannya membimbing Bani Israil.

Rasulullah SAW kemudian kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan. Permohonan tersebut dikabulkan, dan jumlah salat dikurangi secara bertahap. Setiap kali jumlahnya berkurang, Rasulullah kembali bertemu Nabi Musa AS, yang kembali menyarankan agar Rasulullah meminta keringanan lagi.

Proses ini berlangsung beberapa kali hingga akhirnya kewajiban salat ditetapkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Meskipun jumlahnya berkurang, Allah SWT menetapkan pahala salat lima waktu tetap setara dengan pahala 50 kali salat.

Ketetapan tersebut menunjukkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada umat Islam, sekaligus menggambarkan perhatian Rasulullah SAW terhadap kemampuan umatnya dalam menjalankan perintah agama. Salat kemudian menjadi satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung di langit, bukan melalui wahyu di bumi, menandakan kedudukannya yang sangat penting dalam ajaran Islam.

Baca juga  Kasus Kuota Haji: KPK Menjerat Eks Menag Gus Yaqut sebagai Tersangka

Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa pengurangan jumlah salat bukan berarti pengurangan nilai ibadah. Justru sebaliknya, salat lima waktu menjadi sarana utama bagi umat Islam untuk menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT secara konsisten setiap hari.

Hingga kini, peristiwa Isra’ Mi’raj diperingati umat Islam setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Peringatan ini biasanya diisi dengan pengajian, ceramah keagamaan, dan refleksi spiritual mengenai makna salat serta keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, umat Islam diingatkan bahwa salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi utama dalam kehidupan beragama. Salat menjadi penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya, sebagaimana Rasulullah SAW menerimanya secara langsung dalam perjalanan spiritual yang penuh makna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *