PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global. Dampaknya, menurut dia, dapat merembet hingga ke perekonomian Indonesia, terutama sektor energi.
“Kalau perang ini terus berlanjut dan meluas, tentu akan berpengaruh terhadap ekonomi dunia,” kata Jusuf Kalla dalam keterangannya, Senin, 2 Maret 2026.
Konflik tersebut disebut semakin memanas setelah meningkatnya ketegangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global, khususnya terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Jusuf Kalla mengatakan, kawasan Teluk merupakan salah satu jalur utama distribusi energi dunia. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan gas. “Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan merasakan dampaknya,” ujarnya.
Kenaikan harga energi, lanjut dia, bisa memicu tekanan inflasi dan meningkatkan beban subsidi pemerintah. Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah serta arus investasi.
Ia berharap semua pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan. “Perang tidak pernah menguntungkan. Yang dirugikan bukan hanya negara yang bertikai, tetapi juga negara-negara lain,” kata dia.
Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 10 per barel dapat menambah tekanan pada defisit transaksi berjalan negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Pemerintah Indonesia hingga kini terus memantau perkembangan situasi dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.




