PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Suara bambu bertalu-talu memecah pagi di halaman MI Walisongo 1, Banyuanyar Tengah, Senin, 16 Februari 2026. Puluhan siswa memukul instrumen sederhana yang mereka bawa dalam Lomba Tung-Tung Sahur, tradisi membangunkan warga untuk sahur yang kembali dihidupkan menjelang Ramadhan.
Kegiatan itu digelar sebagai bagian dari upaya madrasah menanamkan kegembiraan menyambut bulan puasa. Para siswa menampilkan aransemen musik tradisional dengan irama dinamis. Sebagian mengenakan kostum bernuansa islami, lainnya tampil dengan atribut kreatif dari bahan daur ulang.
Kepala MI Walisongo 1, Mutmainnah, mengatakan lomba tersebut dirancang untuk mengenalkan kembali kearifan lokal kepada siswa sejak dini. Menurut dia, Tung-Tung Sahur bukan sekadar bunyi-bunyian, melainkan tradisi yang sarat pesan moral.
“Tradisi ini mengajarkan kepedulian, bagaimana membangunkan orang lain untuk beribadah. Nilai kebersamaan dan gotong royong juga ada di dalamnya,” kata Mutmainnah saat ditemui di sela kegiatan.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Melalui aktivitas kreatif berbasis budaya, siswa diajak berinteraksi langsung dan membangun kekompakan dalam kelompok.
Ketua Yayasan Tarbiyatul Islam Walisongo, Ahmad Ubaidillah, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai inovasi pendidikan yang memadukan nilai agama dan budaya lokal penting dilakukan di tingkat madrasah.
“Ini bukan sekadar lomba yang ramai suara, tetapi bagian dari merawat tradisi Islam yang santun dan menggembirakan. Kami mendukung program yang menguatkan karakter sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya.
Kemeriahan lomba menjadi penanda bahwa tradisi lama tetap menemukan ruang di tengah generasi muda. Bagi siswa MI Walisongo 1, tabuhan bambu itu bukan hanya irama, melainkan ekspresi suka cita menyambut Ramadhan yang kian dekat.




