PILIHANRAKYAT.ID, Jember-Kita sudah bosan mendengar cerita sukses sawit dan nikel. Tapi siapa sangka, dua sayuran yang jarang jadi bintang di warung sayur edamame dan okra justru sedang jadi langganan tetap supermarket di Jepang, Amerika, bahkan Eropa?
Edamame, si kacang hijau yang biasa nongol sebagai camilan di restoran Jepang, ternyata punya cerita lain di baliknya.
Di Jember misalnya, petani lokal bekerja sama langsung dengan pabrik pengolahan lewat sistem kontrak.
Artinya, harga sudah pasti, pasar sudah jelas, petani tinggal fokus nanam dengan standar kualitas tinggi. Hasilnya? Produk Indonesia bisa nyaingi kompetitor dari Thailand atau China.
Okra juga tak kalah menarik. Sayuran yang sering dianggap “sayur orang tua” ini ternyata laris di pasar luar karena tren _healthy food_ yang nggak ada matinya. Yang bikin menarik: teknologi pembekuan cepat (quick freezing) bikin okra tetap segar sampai berbulan-bulan. Jadi bisa dikirim ke mana pun tanpa khawatir busuk di jalan.
Yang paling penting dari cerita ini sebenarnya bukan soal sayurnya, tapi modelnya. Kehadiran pabrik pengolahan di daerah sentra produksi menciptakan ekosistem yang menguntungkan semua pihak: petani dapat kepastian pasar, pekerja pabrik dapat gaji, dan produk Indonesia dapat tempat di rak luar negeri. Ini yang namanya _win-win solution_.
Tapi jangan senang dulu. Potensi ini masih mentah. Pemerintah perlu dorong riset varietas unggul dan teknologi budidaya yang lebih efisien. Sektor swasta juga harus lebih berani investasi di infrastruktur pascapanen.
Kalau model edamame dan okra ini bisa direplikasi ke komoditas lain misalnya buncis, paprika, atau asparagus bukan tidak mungkin Indonesia punya _bargaining position_ lebih kuat di pasar pangan global.
Intinya sederhana: fokus pada kualitas, bukan sekadar kuantitas. Edamame dan okra sudah membuktikan itu. Saatnya komoditas minor lainnya ikut serta.
*Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#Edamame #Okra #EksporPangan #PertanianIndonesia #Agribisnis




