PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Aplikasi berbagi video pendek TikTok kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah laporan menyoroti sisi gelap di balik popularitasnya. Di satu sisi, aplikasi ini tumbuh menjadi ruang kreativitas dan hiburan bagi jutaan pengguna. Namun di sisi lain, berbagai studi dan pengamatan publik mengungkap persoalan privasi, keamanan, hingga dampak psikologis yang kian mengkhawatirkan.
Sejak kemunculannya, TikTok melesat menjadi platform hiburan paling dominan. Situs an-nur.ac.id menyebut kesederhanaan fitur editing dan kemudahan membuat video menjadi kunci daya tariknya. Format video pendek yang menurut IDN Times memudahkan pengguna menonton dalam durasi singkat membuat aplikasi ini nyaris tak pernah sepi.
Popularitas itu juga menjanjikan peluang ekonomi. Menurut Teknovidia, pola distribusi konten TikTok memberi ruang bagi kreator pemula maupun pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan promosi. Banyak bisnis kecil yang berkembang pesat berkat algoritma rekomendasi TikTok yang agresif.
Namun perkembangan tersebut dibayangi sederet catatan negatif. Laporan di Projectmanagers.net menyoroti metode pengumpulan data TikTok yang dinilai terlalu luas, mulai dari lokasi hingga pola penggunaan perangkat. “Risiko penyalahgunaan data tidak bisa diabaikan,” demikian laporan itu.
Isu keamanan juga muncul setelah IDNSA mengungkap kerentanan yang memungkinkan akun pengguna dibajak hanya bermodalkan nomor ponsel. Kejadian ini memicu diskusi baru tentang lemahnya sistem perlindungan akun di platform tersebut.
Di sisi lain, berbagai artikel seperti yang ditulis Daritekno dan Highsocial mengingatkan tingginya potensi paparan konten negatif mulai dari kekerasan, ujaran kebencian, hingga informasi menyesatkan. Bagi remaja, risiko kecanduan, penurunan produktivitas, dan tekanan sosial dari budaya viral disebut sebagai persoalan yang semakin relevan.
Dari perspektif keamanan digital, Norton menempatkan TikTok sebagai salah satu aplikasi yang memerlukan perhatian ekstra terkait transparansi data dan kebiasaan penggunaan.
Meski mendapat kritik, TikTok tetap menjadi aplikasi favorit sepanjang 2024–2025. Popularitasnya tak menunjukkan tanda melambat. Pertanyaannya: apakah pengguna siap menerima risiko yang datang bersama hiburan instan tersebut, atau platform ini akan bergerak memperbaiki diri seiring meningkatnya tekanan publik?
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, satu hal tampak pasti: TikTok kini bukan sekadar ruang bermain, tetapi arena pertarungan baru antara kreativitas, keamanan, dan masa depan literasi digital masyarakat.




