PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pendidikan merupakan pilar utama dalam menjaga kuatilas SDM yang ada di Indonesia, pada hakikatnya pendidikan adalah proses pembelajaran untuk memanusiakan manusia, selain berfokus kepada pengembangan kecerdasan dan keilmuan, pendidikan juga sarana untuk membentuk karakter, meningkatkan kesadaran moral, dan mampu menghasilkan individu-individu yang dapat berfikir logis dan keritis serta bertindak dengan bijak. Namun belakangan ini, tampak pegeseran arah dalam dunia pendidikan, industrialisasi pendidikan yang menekankan efesiensi, produktifitas dan orientasi pasar dunia kerja perlahan-lahan mengikis nilai-nilai Rohaniyah yang ada pada pendidikan tersebut yang notabenenya menjadi pondasi utama dalam ilmu pengetahuan.
Fenomena ini dapat dilihat secara kasat mata dengan semakin kuatnya orientasi pendidikan terhadap dunia kerja, kurikulum sering berubah dan menyesuaikan kebutuhan industri, dan lulusan dievaluasi sesuai dengan kecepatan mereka mendapatkan pekerjaan, dan lembaga pendidikan bersaing untuk mencetak lulusan yang siap pakai di dunia kerja.
Disatu sisi, pendekan semacam ini dapat dianggap sebagai jawaban dalam menjawab tantangan zaman serta relevan dengan kebutuhan pasar serta mencegah angka pengangguran. Namun disisi lain ada rasa kekhawatiran terhadap hilangnya nilai-nilai makna pendidikan sebagai ruang mencari ilmu pengetahuan dan pembentukan manusia seutuhnya.
Esensi keilmuan dalan pendidikan terletak pada semangat dalam mecari kebenaran bukan hanya sekedar untuk pengembangan secara teknis. Ilmu tidak hanya sebagai alat bekerja namun juga sebagai alat untuk memahami kehidupan dan kebijaksanaan. Disaat pendidikan difokuskan kepada aspek praktis dan pragmatis, maka proses pemikiran mendalam, diskusi filosofis, sosiologis serta pengembangan nilai-nilai etis dan moral akan terpinggirkan. Akibatnya akan terlahir generas-generasi yang terampil namun kurang memiliki nilai-nilai kepekaan terhadap sosial masyarakat dan kedalaman berfikir. Dan ini sering kita jumpai khusunya dalam proses penegakan hukum yang fokus kepada penegakan peraturan bukan pada pelaksanaan asas-asas keadilan.
Selain itu, indusrialisasi pendidkan juga menyebabkan adanya budaya instan dalam proses belajar,kegiatan pendidikan seringkali dipersempit kepada orientasi aspek-aspek kuantitatif, nilai ujian tinggi, kelulusan cepat, dan sertifikasi kompetensi. Peserta didik didorong untuk menghafal, bisa mengerjakan soal-soal tampa memahami esensinya dan mengejar hasil dari pada proses, sehingga proses belajar kehilangan arti sebagai perjalanan intelektual yang memberi kebebasan, dan berubah menjadi rutinitas yang mekanis dan kurang bermakna.
Tidak hanya itu, posisi guru juga bergeser seiring tantangan datang, awalnya guru adalah pembimbing sekaligus pendidik serta sosok suri tauladan bagi muridnya, kini berubah menjadi fasilitator teknis yang menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum, RPP, modul ajar dan beban administraif lainnya, sehinggga interaksi guru dan murid menjadi kaku, formal dan minim etika.padahal, dalam tradisi pendidikan yang ideal, interaksi antara keduanya adalah ruang pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai kehidupan.
Tentu saja, bukan berarti pendidikan tidak boleh memiliki hubungan dengan dunia industri. Keterampilan praktis, efektivitas tetap penting serta relevansi terhadap kebutuhan zaman tidak dapat dihindari. Tetapi tetap harus menjaga keseimbangan antara pendidikan dan industri, pendidikan tidak boleh tunduk sepenuhnya dengan logika pasar, agar tidak menjadikan peserta pendidik sebagai produk yang harus sesuai dengan ketentuan pasar.
Mengembalikan Ruh keilmuan dalam pendidikan memiliki makna menghidupkan kembali semangat belajar yang beriorintasi kepada makna. Kurikulum dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri tetapi juga untuk menumbuhkan daya pikir yang logis dan kritis dan kesadaran etis, sedangkan guru tidak hanya diberikan ruang sebagai fasilitator teknis tetapi sebagai pembimbing dan pendidik sejati yang memiliki hubungan emosional sebagai anak didik, sementara itu siswa didorong untuk kembali mencintai ilmu bukan mengejar nilai.
Dan pada akhirnya, kita harus tau bahwa pendidikan adalah investasi dalam peradaban. Ia tidak boleh dibuat hanya sebagai alat produksi. Meskipun industrialisasi dapat meningkatkan efisiensi, pendidikan akan kehilangan arah jika tidak ada semangat akademik. Kitai semua bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi tempat yang memanusiakan manusia, tempat di mana pengetahuan tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihayati dan diamalkan.
Jika pendidikan dan industri berkolaborasi bersama dengan tetap memegang teguh nilai-nilai yang ada pada keduanya, maka akan lahirlah tenaga kerja yang kompeten dan memanusiakan manusia, dan dari sinilah peradaban yang bermakna akan tumbuh.
*Ach Jalaluddin Ar Rumi
(Dosen STAI Nurul Qadim Probolinggo)




