Dari Khilafah Hingga Hoax, Pertanyaan Siswa Rohis Hujani Menag


PILIHANRAKYAT.ID, BELITUNG – Menjelang sore itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin tampak sumringah tatkala memasuki kafe tak jauh dari Bandara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Rasa lelah usai kunjungan kerja ke Pangkal Pinang tak terlihat di wajahnya. Tiba di Tanjung Pandan sekitar pukul 15.00 WIB, Menag bergegas meninggalkan bandara dan berbaur bersama para siswa peserta Perkemahan Rohis Tingkat Nasional ke III.

Menag menyapa mereka yang sudah berkumpul dan menunggu kedatangannya. Ya, sore itu siswa-siswi Rohis mendapat kesempatan bertemu Menag dalam acara Ngopi Bareng bertajuk ‘Muda itu Berkarya’. “Saya lebih senang menyapa dengan sebutan saudara, karena saya sedang berhadapan dengan pemuda-pemudi harapan bangsa. Saya merasa, 10 hingga 15 tahun ke depan, Indonesia ada di tangan saudara semua,” ucap Menag mengawali pertemuan, Senin (05/11/2018) sore.

Baca Juga:

Ngopi bareng Menag bersama siswa-siswi Rohis dipandu Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Rohmat Mulyana Sapdi. Menurut Rohmat ajang ngopi bareng ini lebih bertujuan untuk bagaimana siswa-siswi Rohis dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan Menag Lukman tentang berbagai hal.

Dalam kesempatan itu, Menag ajak para siswa untuk bertanya dan berdiskusi. Kesempatan pun disambut siswa-siswi Rohis yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dengan melontarkan ragam pertanyaan. Mulai Islam Toleran, dari soal khilafah, bendera tauhid, menangkal Hoax hingga bagaimana aplikasi dari tema Muda itu Berkarya.

Baca juga  Pemprov Jatim Kaji Rute Baru Trans Jatim di Malang Raya

Kepada mereka, Menag mengakui pertanyaan yang dilontarkan luar biasa. Ia pun memulai dengan Islam ajaran yang menebarkan keyakinan akan adanya Tuhan yang satu dan tidak berbilang. “Intinya Islam ajaran yang menebarkan kasih sayang. Islam itu akar katanya sama dengan Assalam, damai dan kasih sayang. Karena agama hadir untuk mengangkat harkat martabat manusia,” ujar Menag.

Dikatakan Menag, untuk mencapai kedamaian itu syaratnya kebutuhan pokoknya terpenuhi baik sandang papan dan kesejahteraan dalam pengertian fisik. “Orang damai bila rasa aman tercipta pada dirinya. Di situlah kedamaian akan muncul. Islam hadir untuk memenuhi keduanya,” kata Menag.

Soal khilafah, lanjutnya, yaitu sebuah konsepsi pengaturan sistem pemerintahan yang dalam sejarah Islam pernah diterapkan dan dikenal Khilafah Rosidin, Bani Umayah, dan Usmaniyah. “Bangsa Indonesia sudah bersepakat membangun dan menjalankan roda pemerintahan dengan prinsip berdasarkan Pancasila tidak dengan konsepsi yang lain. Oleh karenanya, umat Islam tunduk dengan kesepakatan. Islam mengajarkan wajib tunduk dengan kesepakatan yang kita buat sendiri,” jelasnya..

“Poinnya dalam kontek Indonesia, konsepsi khilafah itu bukan dianggap salah, tapi tertolak oleh mayoritas bangsa karena tidak relevan dengan bangsa yang beragam dan majemuk,” sambung Menag.

Terkait tema Muda itu Berkarya, Menag menyatakan, orang bisa berkarya syaratnya kompetensi. Yaitu, keahlian terhadap penguasaan bidang tertentu. Bagaimana kita bisa berkarya yaitu bagaimana dengan memiliki keahlian. Di era sekarang, syarat untuk bisa menjadi sosok yang di atas rata-rata yaitu, integritas. “Dari sekarang kita harus membangun integritas. Hanya orang berintegritas sajalah yang berada di atas orang kebanyakan. Apa itu integritas, yaitu kejujuran disiplin, kematangan, kemudian kompetensi sehingga bisa menghasilkan karya,” tanda Menag.

Baca juga  Mukercab DPC-DPAC PKB Se-Banten Targetkan Gus Ami Presiden 2024

Terakhir, terkait bagaimana menangkal hoax, dijelaskan Menag umat Islam  memiliki tradisi yang bagus dalam menanggulangi hoax. Menurutnya, para ulama hadis untuk memverifikasi dan konfirmasi, klarifikasi dan menyakini apakah sebuah ungkapan dan kabar benar datang dari Rasulullah mereka melakukan dua pendekatan.

“Yaitu memeriksa konten dari isi dan memeriksa siapa rasi periwayatannya. Kalau kita mendapat ponstingan di group atau di media sosial, pertama memeriksa kontennya apakah konten ini membawa manfaat bagi diri, positif gak? Kalau saya share apakah mendatangkan sisi positif atau sebaliknya. Maka dalam Islam yang diperlukan adalah menebarkan berita baik,” imbau Menag.

Ditegaskan Menag, bila menyebarkan hal buruk orang lain saja, itu bisa dikatakan ghibah, meski keburukan orang itu benar. Apalagi keburukan orang itu tidak sesunguhnya atau fitnah. “Maka kalu kita menerima positingan soal keburukan, meskipun itu benar, sekali lagi kita tidak dalam posisi untuk menyebarkannya. Berdakwah itu mengajak kepada kebajikan. Nilai kebajikan itu hanya bisa ditebarkan dengan rasa cinta dan kasih sayang. Buat apa kita menebarkan keburukan kalau itu ghibah, apalagi fitnah,” tutup Menag.

Sumber: Kemenag
Editor: Didik Hariyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *