Duet Iman Budi Santosa, Sam Cooney, dan Rebbeca Harkins-Cross di Satellite Event 2015 @Jogja

YOGYAKARTA – Satellite Event 2015 @Jogja, diskusi betema “Manusia, Budaya, Kota” tadi malam di Ayumi Cafe, jl. Nologaten (5/11) menjadi ajang tukar informasi kebudayaan antara Yogyakarta, Indonesia dengan Australia. Dari Yogyakarta dihadiri oleh Iman Budi Santosa sebagai sesepuh sastrawan di Yogyakarta. Sedangkan dari Australia dihadiri oleh Rebecca Harkins-Cross sang kritikus film Melbourne dan pengelola majalah BROW, Sam Cooney.

Pembicara pertama dalam diskusi tadi malam disampaikan oleh Iman Budi Santosa. Dalam kesempatan yang diberikan selama 10 menit oleh moderator dimanfaatkan dengan baik oleh Iman Budi Santosa. Tadi malam Iman Budi Santosa menyampaikan bahwa, Yogyakarta merupakan kota penyair dari masa ke masa.

Foto Ilustrasi “3 in 1” / pilihan rakyat/ foto Bagas Jiddan

 
Di samping itu, Iman Budi Santosa juga menyampaiknan bahwa, sebagai sebuah fenomena kebudayaan atau fenomena kesustraan, di Yogyakarta sejak tahun 2000-an banyak sekali penyair yang lahir dari Madura. Bagaimana bisa anak-anak Madura yang ada di Yogyakarta banyak yang menjadi penyair dan telah memberi warna tersendiri bagi kesusastraan di Yogyakarta. “Tahun 60-an hanya ada satu penyair kelahiran Madura, yaitu Faisal Ismail yang kini telah pensiun sebagai Guru Besar di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Namun sekarang, banyak sekali anak-anak Madura yang lahir sebagai penyair di Yogyakarta. Bagaimana bisa?” Demikian ungkapan Iman Budi Santosa yang disampaikan pada hadirin dan khususnya bagi kedua tamu dari Australia.

Baca juga  Viral Lewat Cerita Horor, Ternyata Desa Penari Ada di Ponorogo

Di sela-sela bercerita tentang Yogyakarta sebagai kota penyair, Iman Budi Santosa juga menyampai pikirannya bahwa, hal tersebut kemungkinan terjadi sebagai warisan dari Ki Hajar Dewantara. Di samping itu, Iman Budi Santosa juga mengenang masa-masa di tahun 65, di mana konflik antar organisasi menjadikan sasra tidak berkembang sama sekali. Sebab waktu itu sastra Indonesia, khususnya di Yogyakarta didominasi oleh salah satu aliran sastra yait realisme sosialis.

Sebagai penutup dari sesi ceramah 10 menit, Iman Budi Santosa menyampaikan, “Yogyakarta memiliki tradisi diskusi kreatif yang baik. Diskusi ini lahir dan hidup di benyak komunitas yang lahir dari tahun ke tahun. Bagi anak-anak Madura segerala mencatat sekian persitiwa kebudayaan dan laku-laku kebudayaan yang dilakoni oleh anak-anak Madura di Yogyakarta”

Sam Cooney selaku pembicara yang mendapat giliran kedua, menyampaikan bahwa dirinya baru pertama datang ke kota penyair ini (Yogyakarta). Pertama kalike datang ke Yogyakarta, Sam mendapat banyak pelajaran baru dari tradisi dan kehidupan di Yogyakarta. Sam menaruh perhatian khusus terhadap komunitas-komunitas sastra di Yogyakarta. Walaupun di Australia juga ada banyak komunitas sastra, namun tak sebaik di Yogyakarta siklusnya.

“Di Australia banyak komunitas sastra tetapi tidak sekuat di Yogyakarta,” ungkap Sam Cooney pada hadirin di Ayumi Cafe tadi malam. Sam Cooney juga menyampaikan bahwa di Australia banuak penulis-penulis yang menulis tema-tema kebudayaan Indoneisa. Sebab di Australia yang merupakan negara koloni balum memiliki tradiri atau budaya yang burusia panjang seperti Indonesia.

Baca juga  Polisi Wajibkan Baca Kitab Kuning: Begini Respon PP Muhammadiyah

Selanjutnya Rebecca Harkins-Cross menggunakan waktunya untuk menyampaikan beberapa halpada hadiri di acara Satellite Event 2015 @Jogja semalam. Dalam kesempatan terbaik itu, Rebecca begitu tertarik dengan data fan informasi yang disampaikan oleh Iman Budi Santosa, terkait komunitas sastra di Yogyakarta, tradisi diskusi yang kuat dan kekeluargaa, serta anak-anak Madura yang sedikit banyak telah memberi warna tersendiri bagi sastra di Yogyakarta.

Rebecca menyampaikan tips menjadi penulis yang baik. Bagi Rebecca menjadi penulis yang baik adalah setia proses. “Proses menulis adalah proses yang berkelanjutan. Proses menulis adalah peroses belajar yang terus-terus menerus. Sebab untuk menjadi penulis yang baik memang harus konsisten dan berkelanjutan. Apabila penulis itu bisa berproses secara berkelanjutan, maka ia akan dapat mengambil pejalaran dari karya-karya yang telah ditulis sebelumnya,” ungkap Rebecca pada hadirin.

Dalam kesempatan diskusi dua bahasa ini, baik Sam Cooney maupun Rebecca Harkins-Cross, sama-sama menggunakan bahasa Inggris. Sebab para hadirin mayoritas hanya bisa menggunakan bahasa Indonesia, maka hadir penerjemah dalam acara diskusi terebut yaitu Ahmad Fawaid.

Acara Satellite Event 2015 @Jogja di Ayumi tadi malam ditutup dengan pembacaan Puisi oleh penyiar “Utherus” yaitu Kedung Dharma Romansa. (SEL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *