Oleh : Anang Imamuddin
PILIHANRAKYAT.ID, Setiap generasi mempunyai cerita dan masa kejayaan masing-masing. Dari masa lalu sampai masa kini. Dari peradaban batu, peradaban menulis, peradaban membangun sampai dengan peradaban modern yang serba canggih.
Setiap peradaban dilahirkan oleh generasi yang paling menonjol di masanya tersebut. Seorang pemimpin, konseptor, inovator ataupun kreator pasti memiliki keunggulan di atas rata-rata orang lain. Pribadi tersebut pastinya tidak biasa-biasa saja baik dalam berpikir, berkata atau bertindak. Yang dilakukan pasti hal-hal yang luar biasa.
Seorang pribadi yang lengkap karakter, sifat dan sikapnya biasanya menjadi pemimpin di wilayahnya, di lingkungannya atau dimana tempat dimana dia berada. Dalam kesempatan ini penulis mencoba menuangkan beberapa sifat yang harus dimiliki generasi milineal saat ini sehingga tetap teguh, berprinsip, berkakter serta memiliki visi yang jauh ke depan.
Menurut penulis, saat ini dibutuhkan pribadi-pribadi yang punya karakter atau sifat pintar, baik, benar serta pemberani.
Pintar atau kecerdasan intelektual (intelectual quotient) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan pikiran dalam beberapa kemampuan baik kemampuan menalar, memecahkan masalah, merencanakan, bergaya bahasa dan sebagainya. Parameter kepintaran biasa dihubungkan dengan akademik. Orang yang ingin menjadi pintar dapat dicapai dengan banyak menuntut ilmu, bersekolah dengan jenjang yang tinggi. Kecerdesan intelektual ini menjadi bagian yang penting bagi kita manusia karena mengoptimalkan akal sebagai anugrah yang luar biasa.
Sifat baik, adalah suatu sifat yang biasa diukur dari parameter sosial atau sosiologi. Kecerdasan yang membuat menjadi orang baik disebut kecerdasan emosional (emotional quotient). Kecerdasan emosional ini adalah kemampuan seseorang dalam menerima, mengelola dan menyalurkan emosi di dalam dirinya dan sekitarnya. Sifat tersebut biasanya muncul seperti rasa empati, simpati, sikap bijaksana dan lain sebagainya. Kecerdasan emosional ini dapatkan dari organisasi atau sosialiasi dengan banyak orang. Seseorang yang aktif di organisasi atau luas sosialisasi biasanya punya kecerdasan emosional yang lebih baik. Karena sudah biasa berhadapan dengan orang banyak, memimpin atau dipimpin. Biasa memecahkan masalah baik di dalam organisasi atau masalahnya orang banyak.
Sifat benar, adalah suatu hal yang sesuai dengan norma-norma kebenaran yang berasal dari agama. Biasanya disebut kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Kecerdasan spiritual ini menjadi hal yang sangat penting dan mendasar. Karena semua sifat kita yang pintar dan baik ketika tidak berlandaskan dengan nilai-nilai spiritual agama maka bisa jadi kemanfaatannya akan tidak maksimal atau justru dapat membahayakan. Di jaman seperti ini, kecerdasan spiritual harus lebih kuat dan dominan. Kecerdasan spiritual ini teraplikasi seperti pada sifat jujur, amanah, rendah hati dan lain sebagainya.
Yang terakhir, setelah kita menjadi generasi yang pintar, baik dan benar masih ada kebutuhan yang sekarang sangat sulit didapat yaitu generasi pemberani. Sifat pemberani ini adalah suatu keteguhan hati dan rasa percaya diri dalam menghadapi suatu masalah atau bahaya dan juga berani di dalam mengungkapkan sebuah ide atau gagasan serta mewujudkan kebaikan dan kebenaran. Keberanian itu adalah pintu masuk untuk memperlihatkan suatu kepintaran, kebaikan dan kebenaran tetapi bukan bermaksud untuk pamer atau sombong.
Banyak generasi kita yang pintar, baik dan benar tapi masih minim para pemberani yang punya prinsip serta komitmen tinggi untuk bersikap, berkata dan bertindak.
Pada kesempatan ini, penulis mengajak kepada diri sendiri serta generasi milineal saat ini untuk terus menempa diri menjadi generasi milineal dengan gen “K” atau Komplit. Generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan generasi yang pemberani.
Demikian tulisan singkat dan sederhana dari pemuda desa yang terus belajar untuk menjadi generasi yang berkarakter desa, berotak Jerman dan berhati Mekkah.
Salam Dari Desa
Dari Ndeso Untuk Indonesia
Muntilan, 16 September 2019




