![]() |
| Doc JBS/PRN |
Sebagai pengantar, buku Catatan Orang Gila yang ditulis oleh Han Gahas berkisah tentang Tarmi, pasien rumah sakit jiwa yang tak pernah berhenti bicara, ngomong seperti tak mengenal capek, ngedumel tak karuan, lalu tertawa terbahak-bahak. Tentang Maya, yang suka menangis sampai sembab, kelopak matanya sampai bengkak, bantalnya pun basah kemudian menerawang memandang keluar jendela. Tentang Yu Lastri perempuan berusia 40 tahun yang selalu mengeluh pegal-pegal, ngilu pinggang dan nyeri kaki. Juga tentang Astrid, Helen, Redi, dan orang-orang yang dianggap gila, atau sengaja dibuat gila. Di balik kegilaan mereka tersimpan berbagai cerita seperti kisah 30 September 1965, kerusuhan Mei 1998, penggusuran rumah, dan patah hati karena cinta. Di balik kegilaan mereka ada sejarah hidup yang penuh makna. (www.goodreads.com)
Berbeda dengan sebuah jendela yang ditulis oleh admin googreads di atas, Sari Novita menulis dalam resensinya berjudul “Buku Catatan Orang Gila”, yang dimuat di Ruang Baca: Tempo.co., 14 Mei 2015 lalu. Sari Novita menulis bahwa, “Buku kumpulan cerita pendek yang menghimpun 17 kisah, diakhiri dengan cerita berjudul “Catatan Orang Gila”. Kisah seorang manusia yang pernah mengalami gangguan jiwa dan di kemudian hari ia mencatat ‘pengalamannya’ tersebut. Penyakit yang pernah dideritanya memicunya untuk mengambil master psikologi. Menurut sang tokoh, ia memadukan pengalaman psikotisnya sebagai pengalaman transpersonal yang transformatif. Sempat terlintas di kepala saya, “Adakah peristiwa yang seperti ini terjadi?” Lalu, saya berpikir, “Mengapa tidak? Karena apa pun di kehidupan ini bisa terjadi.” Hal yang tidak logis bisa menjadi logis, seperti orang yang waras bisa menjadi gila.”
Selain itu, komentar juga datang dari resensor bernama Teguh Afandi. Dalam sebuah resensinya yang diberi judul “Humanisme Cerpen Han Gahas, yang dimuat di Koran Singgalang, 1 Maret 2015 lalu menyatakan demikian: “Usai membaca buku “Catatan Orang Gila” milik Han Gagas, ingatan kita akan terbawa pada slogan Seno Gumira Ajidarma bahwa ketika jurnalisme terbungkam, sastra bicara. Han Gagas mengisahkan orang-orang yang termarginalkan. Kehadiran kumpulan cerpen ini seolah mengembalikan fungsi sastra yang menyuarakan humanisme dan antitesis atas maraknya cerpen-cerpen Indonesia dewasa ini yang lebih mirip curahan hati penulis, narsistik, dan gejolak asmara belaka.”
Demikian beberapa pintu untuk masuk ke dalam diskusi yang akan berlangsung nati sore di Jalan Wijilan, Gang Semangat no 150, Alun-alun Utara Yogyakarya. Jangan lewatkan! Bila butuh tambahan informasi terkait acaralaunching dan diskusi di halaman Kedai JBS (Jualan Buku Sastra), bisa menghubungi yang besangkutan di 0818-0271-7528.
Sebagai tambahan informasi, bila ada yang membutuhkan bahan bacaan dari Catatan Orang Gila dalam ventuk pdf dapat mengirim permohonan ke email: [email protected]. (SEL)





