Suasana acara Ngaben Kebudayaan yang dilaksanakan di Pelataran Teater Jakarta kemarin tampak meriah seperti dalam foto-foto yang diunggah oleh Joel Tahir bersama Amien Kamil di Album Foto Facebooknya, kemaren. Album Foto tersebut diberi judul “Ngaben Kebudayaan”.
![]() |
| Radar Pancadaha/doc. Joel Tahir |
Acara Ngaben Kebudayaan itu diadakan sebagai perotes kepada tangan-tangan pemerintah yang telah menebang pohon seenaknya. Kondisi batang pohon yang tersisa setelah ditebang dapat dilihat dalam hasil dokumentasi Joel Tahir.
Ngaben Kebudayaan yang berisi kegiatan melukis bersama sebagai bagian dari acara Pernyataan Keprihatinan Masyarakat Seniman Jakarta ini, disambut dengan baik oleh banyak seniman baik yang tinggal di Jakarta maupun di luar Ibukota tersebut. Selain dukungan juga datang komentar para netizen dalam komentar album foto “Ngaben Kebudayaan” di akun FB Joel Tahir. Salah satu komentar netizen berinisial RM menyampaikan dukungannya, “Turut prihatin pohon rindang di babat.” Kemudian disambung oleh RE yang menulis dalam kolom komentar, “selalu tak menggunakan akal!.”
Komentar RE rupanya disambut oleh Netizen lain yang memposisikan diri sebagai pembela tangan-tangan penebang pohon tersebut. Demikian Netizin pro penebangan, EZ, “Justru menggunakan akal… bagian atas pohon itu sudah banyak yang rapuh… berbahaya kalau dibiarkan… kalau niban kepala orang gimana…? Yang dibabat adalah bagian yang rapuh… Kalau emang masih hidup, nanti juga tumbuh lagi tuh batang-batang pohon… bisa kok dipake buat sembahyang… karena masjid Amir Hamzah udah lama dibongkar…” Namun demikian, komentar EZ disambut oleh komentar RWM, “Kacau pikirannya, seenaknya menebang pohon!”
![]() |
| Radar Pancadahan/ doc. Joel Tahir & Amien Kamil |
Masyarakat urban di Jakarta sudah sama tahu bahwa Jakarta sangat-sangat miskin pepohonan rindang. Sehingga auranya panas yang diperparah oleh polusi kendaraan bermotor. Taman Ismail Marzuki merupakan salah satu tempat dari sedikit tempat teduh di Ibukota. Gerakan Pernyataan Keperihatinan Masyarakat Seniman Jakarta di Pelataran Teater Jakarta kemarin merpakan langkah yang baik sebagai sebuah protes kepada pihak penebang pohon. Tersebab acara tersebut merupakan acara dalam rangka memprotes pihak penebang dan demi kesejukan area sekitar, hadirlah sekian dukungan dari Netizen yang hendak hadir dalam acara tersebut. Namun, Ngaben Kebudayaan hanya dilaksanakan kemaren yang selesai sampai menjelang Maghrib.
Menurut salah satu Netizen (inisial H) dalam kolom komentar album foto Joel Tahir menyebutkan bahwa, “TIM yang pernah Ditulis Oleb Alm. Ariffin C. Noer adalah hutan kecil dalam kota. Sekarang panas. Pohon besar yg teduh sudah tak ada lagi.”
Komentar H ini disambut oleh Komentar DE yang mengatakan, “Saya sepengetahuan saya terakhir kondisi pohon itu mengering seluruh daunnya. Dan memang kondisinya menjadi tidak bisa hidup seperti biasanya. Dan memang akhirnya pohon itu sudah dinyatakan mati. Mungkin untuk menghindari jangan sampai ada hal yg tidak di inginkan, kemudian pohon itu ditebang. Kok.. Ada yg berpikiran pohon rindang kok ditebang. Apa memang sudah pernah liat kondisi terakhirnya. Kalau kita ingin mengenang keberadaan pohon itu selama ini bersifat positif … Yaa lakukan saja apa yg ingin dilakukan untuk menngenangnya. Tolong coba kita melihatnya secara logika saja …. Saya rasa itu cukup.”
![]() |
| doc.JT/PLN |
Komentar-komentar yang hadir pasca acara, merupakan anggapan-anggapan di luar acara yang telah terlaksana kemaren di Pelataran Teater Jakarta, TIM, Kemaren. Di mana dalam rangkaian acara tersebut juga hadir seniman/budayawan Radar Pancadaha yang turut serta melukis bersama. (SEL)







