Badriyanto
PILIHANRAKYAT.ID, Aksi unjuk rasa meletup di banyak kota belakangan ini, ribuan mahasiswa turun ke jalan dan mendatangi kantor DPRD setempat untuk menyuarakan isu yang sama yaitu menolak UU KPK dan RUU kontroversi lainnya. Demonstrasi meluas ke daerah-daerah lainnya setelah beberapa hari tuntutan massa aksi belum direspon oleh DPR maupun pemerintah.
Banyak cara yang sudah dilakukan oleh para mahasiswa untuk menyuarakan aspirasinya, mulai dari menggunakan strategi perang tagar di media sosial, hingga ada yang menjadi narasumber di acara talkshow media televisi nasional. Namun cara-cara itu belum ampuh, isu tentang UU KPK dan RKUHP masih digantung oleh istana.
Gelombang massa aksi semakin membesar, pasukan siswa STM (Sekolah Teknik Menengah) ikut bergabung dan mendukung gerakan abang-abangnya, demo yang awalnya damai dan tertib kini berubah menjadi anarkis, massa aksi membakar kendaraan polisi untuk mengekspresikan kekecewaannya kepada penguasa.
Situasi mulai mencekam setelah perlawanan mahasiswa disambut pentungan dan gas air mata oleh aparat kepolisian. Baku hantam pun terjadi dan mengakibatkan dua orang mahasiswa meninggal dunia saat unjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara, sementara puluhan mahasiswa lainnya mengalami luka-luka.
Menyikapi situasi genting tersebut, Jokowi mengumpulkan para tokoh di Istana yang dikoordinatori Goenawan Mohamad. Dari sekian banyak tokoh itu Mahfud MD yang ditunjuk menjadi jubir saat konferensi pers terkait hasil pertemuan itu. Tentu saja kesempatan ini menjadi keuntungan sendiri bagi seorang Mahfud.
MENDADAK JADI PAHLAWAN
Sebagai dosen Mahfud sangat lihai mencuri hati mahasiswa, ia juga pintar memanfaatkan momentum disaat petinggi negara krisis kepercayaan khususnya di kalangan mahasiswa. Mahfud yang bukan bagian dari Kabinet Kerja ternyata mampu menjadi katalisator tuntutan mahasiswa kepada Jokowi.
Berkat Mahfud kini mahasiswa di seluruh daerah bisa bernafas lega karena separuh perjuangannya mulai menuai hasil. Saat ini mahasiswa bisa lebih fokus mengawal investasi terkait kasus meninggalnya dua rekannya.
Sampai disini Mahfud sudah mendapat point di mata mahasiswa, ia selamanya akan dikenang dalam sejarah gerakan mahasiswa sebagai pahlawan layaknya Amien Rais dikenang sebagai Bapak Reformasi karena berhasil menjadi katalisator antara mahasiswa dengan rezim Soeharto pada 1998 silam.
MODAL BERGABUNG KABINET
Situasi ini pasti dimanfaatkan dengan baik dan maksimal oleh Mahfud untuk mencuri hati presiden Jokowi yang sedang menyusun Kabinet Kerja Jilid II. Mahfud akan berusaha meyakinkan Jokowi bahwa ia salah satunya kandidat terbaik yang layak mengemban amanah sebagai Menkopolkam atau Jaksa Agung.
Mahfud hanya satu dari sekian banyak orang yang mendapat untung dari gerakan mahasiswa saat ini, tentu kadarnya berbeda-beda tergantung mereka memainkan perannya dan jeli melihat situasi. Bagi orang yang melihat aksi itu hanya sebatas penolakan UU KPK dan RUU lainnya akan gigit jari saat melihat ada tokoh mulai naik panggung.
Pesan saya kepada Mahfud MD, sebelum dilantik atau setidaknya diumumkan ke publik sebaiknya jangan terlalu percaya diri. Kita semua masih ingat bagaimana drama politik menjelang Pilpres, meskipun Mahfud sudah menyiapkan baju tapi yang dipilih Jokowi justru orang lain untuk menjadi calon wakil presiden.




