Oleh: Cipto
PILIHANRAKYAT.ID – Dalam sejarah dunia, Perempuan selalu memainkan peran penting yang mampu memberikan sumbangsih yang cukup signifikan bagi kelompok atau bagi bangsanya, tapi peran ini sering kali dilupakan oleh para sejarawan sehingga peran bahkan namanya mereka hilang begitu saja, seperti nama Laksamana Malahayati dari kerajaan Aceh yang tidak begitu banyak orang mengenalnya.
Malahayati adalah laksmana Perempuan pertama di dunia yang begitu menakutkan bagi para penjajah, keberanian melawan para penjajah berawal dari kematian suaminya yang gugur melawan Portugis, dia memutuskan untuk membantu pasukan bangsanya dan mengumpulkan para janda yang suaminya gugur dalam peperangan.
Kebringasan Malahayati dalam peperangan dirasakan betul oleh Cornelis de Houtman Panglima sekaligus Jedral dari Belanda dan pada tanggal 11 September 1599, Cornelis harus menghembuskan nafas terakhir di tangan Perempuan saat pertarung satu lawan satu di geladak kapal. Sungguh naas seorang Jedral harus mati di tangan perempuan saat bertarung satu lawan satu.
Malahayati memimpin sekita 2.000 orang pasukan para Janda yang suaminya gugur dalam peperangan, pasukan ini diberinama “Inong Balee”. Inong Balee menjadi benteng yang kokoh dan ditakuti oleh lawan, benteng ini terletak di Sebuah Bukit Kecil di sepanjang Teluk Krueng Raya Aceh.
Kehebatan Malahayati sebagai laksamana perempuan didengar oleh bangsa lain dan sampai pula ke telinga Ratu Elizabeth I, penguasa kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth sangat mengkagumi Malahayati sebagai perempuan yang gagah berani dalam pertempuran lebih-lebih pertempuran di Laut. Ratu Elizabeth tertarik menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Aceh agar dibukakakn jalan bagi pasukan Inggris ke Banten yang ingin berdagang disana.
Malahayati tidak pernah gentar dalam menghadapi musuk yang ingin menjajah kerjaan Aceh, dia menjadi panglima perang perempuan yang ditakuti pada masanya. Pada tahun 1606, Malahayati berhadapan dengan pasukan Portugis dibawah pimpinan oleh Alfonso de Castro yang lansung menyerbu ke Kreung Raya Aceh. Malahayati tak mampu memukul mundur pasukan Alfonso yang sebelumnya sudah mendapat informasi cukup dari pendahulunya karena sebelumnya armada Portugis harus menelan kekalahan dari pasukan Malahayati.
Menyebuan itu, Malahayati gugur sebagai pahlawan dan dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta sebuah desaa nelayan yang berjarah 34 km dari Banda Aceh. Keberanian Malahayati baru diakui secara formal sebagai pahlawan pada masa presiden Joko Widodo yang memberikan anugrah gelar pahlawan nasional ke Malahayati.




