Kontributor: Mugy R. Halalia*
Setahun sudah berlalu masa pemerintahan Presiden Ir. H. Joko Widodo. Pujian dan kritikan terhadap kepemimpinan Jokowi (nama populernya) berhamburan di media massa. Bersamaan dengan itu, sebagai Presiden yang memulai karir politiknya dari tanah kelahirannya di Surakarta, Jawa Tengah, dengan bijak memberikan laporan pencapaian-pencapaian yang sudah dilaksanakan selama satu tahun bersama segenap tim Kabinet Kerja-nya.
Nama Jokowi sebagai presiden RI periode 2014-2019 tidak asing lagi namanya di telinga rakyat Indonesia. Baik bagi para pendukung Jokowi (khususnya para relawan Indonesia hebat), maupun bagi para pendukung Koalisi Merah Putih yang mengusung Prabowo Subianto.
Tahukah Anda bagaimana perjalanan Jokowi untuk sampai pada puncak tertinggi kepemimpinan di Indonesia? Baiklah, mari kita mulai dari track reckor Jokowi dari segi penghargaan yang telah diterimanya sampai tahun 2012. Sekian penghargaan yang telah diraihnya inilah yang mengantarkan Jokowi menjadi tokoh nomor wahid (1) di Indonesia.
Sekian penghargaa baik nasional maupun internasional yang diterimanya adalah sebagai berikut: 1) 10 Tokoh Pilihan tahun 2008 versi Majalah Tempo; 2) Penghargaan Internasional dari Kemitraan Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara (Delgosea) atas keberhasilan Solo melakukan relokasi yang manusiawi dan pemberdayaan pedagang kaki lima; 3) Bintang Jasa Utama untuk prestasinya sebagai kepala daerah yang mengabdikan diri pada rakyat; 4) Walikota No.3 Terbaik Dunia dari The City Mayors Foundation; 5) Meraih Piala Citra Bhakti Abdi Negara (2008-2009-2010) dari Presiden Republik Indonesia; 6) Agent of Change Kemandirian – Dompet Dhuafa; 7) Democracy Award: Manusia Bintang – RMOL; 8) Decade Award: Rising Leader – Men’s Obsession; 9) E-government – Kemkominfo; 10) Adiupaya Puritama – Kemenpora; 11) Pengendali inflasi – Bank Indonesia; 12) Tata ruang kedua terbaik se-Indonesia – Kementrian PU; 13) Top 50 Leaders dari Fortune; 14) Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan – Kemennaker; 15) Bung Hatta Anti Corruption Award – Meutia Hatta; 16) Anti Gratifikasi – KPK; 17) Program Perlindungan Anak – UNICEF (2006); 18) Tokoh Pluralis Tahun 2013 – dari Lembaga Pemilih Indonesia; 19) Good Governance Award (20 September 2012) – Soegeng Soerjadi; 20) Nominasi World Mayor Tahun 2012; dan lain sebagainya.
Barangkali, dari sekian pernghargaan di atas itulah, Jokowi berhasil memenangkan pemilihan Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
Jokowi terkenal dengan gaya “blusukan”nya. Jokowi masyhur pula namanya sebagai sang pencetus “Revolusi Mental” bagi bangsa Indonesia. Sebelum menjadi Presiden, ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014. Sebelum menjadi tokoh no. 1 di DKI Jakarta, Jokowi sangat populer di Solo sebagai Walikota sejak 28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012, yang telah berbuat banyak terhadap perbaikan Solo dan mampu mengangkat derajat rakyat kecil.
Sejak Jokowi terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitasnya melonjak cepat dan dalam waktu yang berkelanjutan ia menjadi tokoh nomor satu di DKI yang menjadi sorotan media. Nama Jokowi yang selalu tampil di media dengan kerja-kerja “blusukannya”, menimbulkan wacana besar di seluruh lapisan masyarakat, bahwa Jokowi sudah pantas menjadi calon Presiden dalam putaran Pemilihan Umum Presiden Indonesia tahun 2014.
Jokowi lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu, 21 Juni 1961 dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo dan merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil yaitu Mulyono. Jokowi memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri 111 Tirtoyoso, sebuah sekolah yang dikenal sebagai sekolah bagi anak didik yang lahir dari kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Setamatnya dari SD N 111 Tirtoyoso, Jokowi melanjutkan pendidikannya ke SMP N 1 Surakarta. Setelah lulus SMP ia masuk ke SMA N 6 Surakarta, yang sebelumnya sempat masuk di SMP N 1 Surakarta. Setelah lulus SMA, Jokowi melanjutkan pendidikannya pada Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan lulus pada tahun 1985. Di UGM Jokowi diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan Kehutanan sesuai dengan kemampuan akademis yang ia miliki. Sebagai anak yang pandai dan pekerja keras, Jokowi memanfaatkan kesempatan di UGM untuk mempelajari struktur kayu, manfaat dan fungsi kayu, serta teknologinya. Setahun kemudian, tanggal 24 Desember 1986, Jokowi menikahi Iriana di Solo.
Di saat yang hampir bersamaan ia merantau ke Aceh untuk bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh. Dirinya mendapat tempat bekerja di area Hutan Pinus Merkusi di datara tinggi Gayo, Aceh Tengah. Lantaran Jokowi kurang betah di tempat ia bekerja. Maka pulanglah ia ke tanah kelahirannya demi sang istri yang saat itu sedang hami tujuh bulan. Setibanya di Solo, ia bekerja di Perusahaan CV. Roda Jati milik Pakdenya, Miyono, dan menjalankan bisnis kayu. Tahun 1998, setelah ia punya banyak uang untuk modal buka usaha sendiri, ia memundurkan diri dari CV Roda Jati.
Sejak itulah ia memulai bisnis sendiri dengan modal pengalaman yang dimiliki. Jokowi adalah sosok pekerja keras, tekun dan ulet. Keberhasilannya mengembangkan bisnis yang dibangun membuatnya jadi seorang eksportir mebel. Berkat usaha yang dirintisnya, ia bertemu dengan Micl Romaknan, yang memberi nama panggilan populer, yaitu “JOKOWI”.
Jokowi yang sukses sebagai eksporter mebel melonjak karirnya setelah terjun ke dunia politik praktid. Tahun 2005 merupakan masa yang paling menentukan bagi karir Jokowi di masa mendatang. Dari seorang eksportir mebel ia memutuskan diri dengan berani untuk untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo. PDI Perjuangan merupakan partai yang ia kendarai dan membawanya dirinya ke kursi kekuasaan “Walikota” di Solo. Kerja keras yang menjadi prinsip dalam diri seorang Jokowi, ketika masyarakat Solo memberikan kepercayaan padanya untuk menjadi menjadi Walikota, Solo benar-benar mengalami banyak perubahan pesat ke arah yang lebih baik.
Sebagai Walikota, Jokowi membuat Branding untuk kota Solo dengan menyetujui sebuah slogan, “Solo: The Spirit of Java“. Langkahnya ini terbilang progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa. Sebagai upaya tindak lanjut terhadap branding yang ia buat, ia ajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkah Jokowi berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008.
Sikap rendah hati Jokowi tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat hampir seluruh masyarakat di Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kehidupan masyarakatnya. Jokowi adalah pemimpin yang mau mendengar keluhan rakyatnya. Dimanapun, sebagai pemimpin, Jokowi tidak mau berjarak dengan rakyat, baik di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo. Jokowi akan mendengarkan keluh kesah yang disampaikan rakyatnya.
Popularitas Jokowi karena bentuk kepemimpinannya yang khas dan membela rakyat kecil, membuat Jusuf Kalla memintanya secara pribadi untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012. Dengan meminta dukungan Megawati Soekarnoputri akhirnya Jokowi dicalonkan dari PDI-P sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kebijakan Jokowi selama menjabat Gubernur DKI Jakarta bersifat populis, seperti Kampung Deret, Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Dari sekian kebijakan Jokowi yang pro rakyat (dengan sekian kontroversinya) sebagai Gubernur DKI Jakarta, mengangkat popularitasnya melonjak tinggi. Popularitas tersebut ditopang oleh gaya blusukannya itu.
Popularitas Jokowi di media massa dan di berbagai lembaga survei sebagai tokoh no. 1 di Indonesia, membuat Megawati menulis surat mandat kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden pada tanggal 14 Maret 2014. Selanjutnya, tanggal 19 Mei 2014, Jokowi mengumumkan bahwa Jusuf Kalla akan menjadi calon Wakil Presiden yang akan mendampingi dirinya.
Kebijakan Jokowi-JK di awal masa kepemimpinannya iala meluncurkan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Akan tetapi, kebijakan tersebut dianggap oleh Partai Oposisi sebagai upaya Jokowi-JK meredam sementara kenaikan harga BBM. Sementara itu, di bidang kelautan, Jokowi menginstruksikan perlakuan keras terhadap pencuri ikan ilegal. Sedangkan di bidangpertanian, Jokowi membagikan 1099 unit traktor tangan di Subang dengan harapan menggenjot produksi petani.
Sumber bacaan dan referensi
Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014), hal 43
Cahyadi Indrananto, Pemimpin Daerah Sebagai Agen: Dramaturgi dalam Komunikasi Politik Walikota Solo Joko Widodo, (Jakarta: Tesis Pascasarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2012), hlm, abstrak.
Pengumuman resmi KPUD Jakarta mengenai hasil rekapitulasi suara Pilkada DKI Jakarta Putaran 2, diakses dari situs KPUD Jakarta
*Mugy R. Halalia, lahir Brebes, 29 Desember 1993. Tercatat sebagai Mahasiswa aktif di jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011- sekarang. Pernah menjadi JUARA I LOMBA PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2012 (Peran dan Upaya Bawaslu Kota Yogyakarta Terhadap Penanganan Kejahatan Pelanggaran Pemilukada Kota Yogyakarta Tahun 2011; Juara III Paling Kreatif dalam Festifal Mahasiswa Hukum yang di selenggarakan oleh ICJ ( International Cort Justice) Yogyakarta 2013; dan Pemusik Perempuan Terbaik dalam Festifal Teater Gabungan dalam TTMN Jakarta 2014.