![]() |
| Koleksi Pribadi |
Catatan pertemuan pertama, di Esto Cafe, 25 Oktober 2015
Notulen/ Penulis: Achmad Sulaiman
Yogyakarta sebagai kota budaya dan pendidikan, juga populer dengan kota yang melahirkan banyak seniman/sastrawan besar di tanah air. Lahirnya sastrawan/seniman besar dari Yogyakarta pada mulanya, diikuti dengan adanya forum-forum pengadilan karya sastra. Salah satu contoh yang paling banyak diketahui publik dan tertulis dam sejarah kesusastraan Indonesia, adalah forum yang dikenal dengan PSK (Persada Study Klub) yang digawangi oleh penyair (Kawindra) besar bernama Umbu Landu Paranggi.
Atas dasar itu, berkumpullah beberapa seniman muda di warung kopi untuk melakukan evaluasi dan kontemplasi terhadap perkembangan sastra Indonesia dewasa ini. Evaluasi dan kontemplasi ini dilakukan oleh Muhammad Aswar, Moh. Fatoni, Sabaruddin Firdaus, dan Wahyudi KH. Mereka semua merupakan seniman yang lahir dari sebuah komunitas (Masyarakat Bawah Pohon) yang telah dinon-aktifkan karena beberapa alasan.
Hasil dari evaluasia dan/atau kontemplasi mereka ialah melanjutkan forum kekeluargaan berbasis kesusastraan dengan pola diskusi yang lebih baik dari tradisi diskusi yang sudah dilakukan masa sebelumnya. Forum diskusi yang meraka maksud adalah forum yang fokus mendiskusikan atau mengaji secara total dengan satu bahasan, yaitu kajian Kritik Sastra.
Setelah mereka yakin terhadap rumusan yang mereka buat, maka dilemparkanlah ke forum Komunitas Sementara yang dihadiri oleh hampis semua anggot eks Masyarakat Bawah Pohon. Dalam forum yang diadakan pada Minggu Sore, 25 Oktober 2015 kemarin, rumusan yang telah dibikin sebelumnya, diapresiasi dengan baik oleh anggota komunitas yang hadir.
Suasana diskusi yang berjalan lentur tapi serius melahirkan beberapa rumusan yang menyempurnakan rumusan yang telah dibuat.
Dalam forum itu dimulai oleh Muhammad Aswar untuk menyampaikan beberapa hal perihal Kajian Kritik Sastra yang akan dilaksanakan sepanjang tahun. “Ide Kajian Kritik Sastra ini lahir dari sebuah kesadaran. Yaitu setelah kami melakukan evaluias dan kontemplasi atas kerja-kerja kesusastra di Komunitas Masyarakat Bawah Pohon selama bebera tahun yang telah berlalu. Di mana, diskusi atau forum-forum yang dilakukan hampir tidak memiliki tergat dan tujuan jangka panjang.”
Lebih lanjut Muhammad Aswar menegaskan bahwa, “Tujuan dari Kajian Kritik Sastra ini, supaya kritik sasra di Indonesia kemabli benar-benar hadir dan semarak. Dalam kajian sastra ini, penting untuk juga membahas atau membaca lebih jauh perkembangan sastra dunia, di sela-sela melakukan apresiasi terhadap karya-karya teman-teman sesuai dengan kajian kritik sastra yang akan dialami nantinya.”
Rumusan baru yang disepakati ialah memformat ulang pola aresiasi sastra karya teman-teman, baik dari dalam maupun dari luar komunitas (mungkin juga karya sastra yang dimuat di koran-Kompas), dengan sistem apresiasi perbandingan (dua sastrawan dipanel dalam satu forum).
Tabik, semangat jalan
Yogyakarta, 25 Oktober 2015/ 19:00





