Rumah Kertas

Rumah Kertas, (Foto: pixaboy.com)
Rumah Kertas, (Foto: pixaboy.com)

Oleh: Tan Hamzah

Dari beberapa buku yang pernah saya baca, Rumah kertas karya CM Dominguez mungkin menjadi salah satu yang terbaik, sebab aku hanya butuh sekitar 3 Jam untuk merampungkan isi ceritanya, Alur yang sederhana namun membangkitkan gairah kita untuk lebih mencari tahu, rahasia tragedy yang ada didalamnya.

Cerita dalam buku ini dimulai Pada musim semi 1998, Bu Dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poems karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.(hlm 1)

Setelah peristiwa tragis tersebut tokoh Aku yang tidak disebutkan namanya hingga akhir novel ini menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin Universitas Cambridge, London. Di suatu pagi ia menerima paket yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon.

Paket berperangko Uruguay tanpa nama dan alamat pengirim tersebut berisi sebuah buku edisi lama La linea de sombra karya Joseph Conrad. Yang mengherankan adalah di sampul depan dan belakang buku tersebut menempel kerak bekas adukan semen. Satu-satunya petunjuk yang ada terdapat di halaman persembahan di mana tertera tulisan Bluma.

Terdorong rasa penasaran siapa Carlos dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma maka tokoh Aku berusaha mencari identitas si pengirim hingga akhirnya didapatinya sebuah nama bernama Carlos Brauer, seorang bibliofil yang menjadi salah satu pendengar di konferensi penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. Tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan Delgado yang juga seorang bibliofil yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya akan buku.

Baca juga  Selamat Jalan Kyai Ku, Ra Muzayyan

Buku ini sebenarnya adalah sebuah pengantar bagi kita untuk menunjukkan bagaimana seorang penggila buku itu bekerja. Melalui tokoh brauer yang tergila-gila dengan buku hingga rumahnya dipenuhi buku dari ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur sampai garasi, semua berisi buku dan ensiklopedia. Ini yang membuat aku iri terhadap Brauer.

“Kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air, dan buku-bukunya tak sampai rusak hanya karena ia berhenti mandi air hangat buat mencegah uap. Mau musim panas atau musim dingin, ia selalu mandi air dingin” (hlm 30)

Tak terbayangkan buatnya untuk menaruh buku Borges bersebelahan dengan Garcia Loca, yang oleh penulis Argentina itu pernah diejek sebagai ‘Andalanus Profesiona’. Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan-tudingan penjiplakan…. Dan tentunya ia tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes, setelah kedua teman ini bermusuhan, sama halnya dengan Vargas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marquez (hlm 37)

Brauer juga selalu menghabiskan banyak uang demi memenangkan setiap acara pelelangan buku. Hingga suatu saat, kejadian malang menimpanya, kehidupan Brauer guncang lantaran kebiasaannya membaca buku-buku abad 19 diterangi nyala lilin telah menghanguskan indeks ribuan buku yang telah susah payah dibuatnya (ribuan bukunya memang tidak hilang, namun ia tak lagi mampu menemukan letak buku yang akan ia baca).

Baca juga  Revolusi Budaya Dalam Konsep Mao

Ia juga menjual rumah karena tuntutan dari mantan isterinya, dan memborong semua buku yang ia koleksi ke sebuah pantai di Uruguay, ia membangun rumah dengan bahan buku tersebut, satu demi satu ia susun, dicampur dengan semen dan kemudian terbangunlah sebuah rumah kertas yang mudah lapuk di tepi pantai Uruguay.

Musim yang tidak bersahabat membuat ia harus berkali-kali menambal rumahnya yang rapuh, buku yang lembab tidak mampu menahan arus angin dan serbuan suhu yang tidak menentu, dan akhirnya melalui buku terakhirnya yang diberikan kepada Bluma Lenon, melahirkan misteri dan petualangan seorang pecinta buku.

Saya rasa novel ini cukup komprehensif untuk menjadi bahan bacaan sekaligus koleksi baru para penggila buku. Pembaca akan tergiur untuk mencari dan menekuri karya-karya Borges, Garcia Lorca, Shakespeare, Marlowe, Martin Amis, Julian Barnes, Vargas Llosa, Garcia Marquez, Pablo Neruda, Roberto Arlt, Vallejo, Onetti, Valle-Inclan, William Faulkner, Dostoievsky, Leo Tolstoy, Hegel, Victor Hugo, Sarmiento, Benedetti, Felisberto Hernandez, Goethe, Hemingway, Kafka, Kant, Cortazar, Huidobro, Burckhardt, Balzac. Dan banyak lagi. Dominguez berhasil “memuliakan” para maestro penulis dunia melalui dialog-dialog cerdas antartokoh tanpa terjebak pada gaya warta yang menggurui. Novel ini dengan cerkas merekomendasikan sumber bacaan bermutu; majalah-majalah kuno, buku sastra Rusia dan Amerika, buku seni, esai-esai filsafat, naskah teater, sandiwara, puisi, ensiklopedia, kamus, hingga pamflet.

Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme (hlm. 32)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *