Opini  

Revolusi Budaya Dalam Konsep Mao

Pemimpin China Moe (foto: ist)
Pemimpin China Moe (foto: ist)

(Tan Hamzah)

PILIHANRAKYAT.ID, Sebuah buku berjudul The Cultural Revolution: A People’s History, 1962-1976 karya seorang profesor bidang sejarah di University of Hong Kong, Frank Dikötter, berusaha mengupas sejarah pahit semasa Revolusi Kebudayaan di bawah kepemimpinan Mao Tse-Tung. Ia mengupas kesalahan yang disembunyikan, peristiwa-peristiwa yang selama ini ditutupi untuk memuluskan rencana revolusi, ternyata ada segelintir sejarah yang membuat luka masyarakat Cina.

Pada tahun 1966, pemimpin Komunis China Mao Zedong meluncurkan apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Kebudayaan untuk menegaskan kembali kewenangannya atas pemerintah China. Revolusi Kebudayaan, yang secara resmi disebut Revolusi Kebudayaan Proletarian Besar, adalah sebuah gerakan sosio-politik yang terjadi di Tiongkok dari 1966 sampai 1976.

Revolusi Kebudayaan Mao Zedong memusatkan kajian permasalahan pada pendidikan untuk kaum tani,Ia mengkrtitik kaum intelektual Cina yang hanya berpihak pada kaum elit, sehingga petani tidak bisa mengembangkan kebudayaannya sendiri. penolakan Mao ini didasari oleh gerakan petani yang membuat sekolah tandingan, yaitu sekolah malam berbasis kurikulum Tiongkok kuno.

Baca juga  ISRA’ MI’RAJ : Solusi Unplug dan Healing Paling Tuntas Untuk Gen Z

Pengalaman masa muda Mao juga memengaruhi gerakan revolusi, selama ia mendapat pendidikan “Sekolah Model Asing” di kota, para petani di desa selalu menanyakan orintasi pendidikan terhadap kaum bawah, Mao selalu berusaha membela pendidikannya yang berbasis Sekolah Model Asing, namun ketika Mao belajar Marxisme dan komunisme pada kurun waktu 1925, ia mulai insaf dan menyadari perkataan petani di desa.

Mao kemudian meluncurkan apa yang disebut Revolusi Budaya (dikenal sepenuhnya sebagai Revolusi Kebudayaan Proletar Agung) pada bulan Agustus 1966, pada sebuah pertemuan Rapat Pleno Komite Sentral. Dia menutup sekolah-sekolah negeri, menyerukan mobilisasi kaum muda untuk mengambil kepemimpinan partai serta menghadapi jeratan nilai-nilai borjuis dan kurangnya semangat revolusioner.

Dari seruan tersebut, banyak kaum muda menggandrungi pemikiran Mao, yang disebut Maoisme. Gerakan pemikiran ini membuat keadaan kota tidak stabil, para pelajar menyerang kelompok elit dan borjuis yang dituding tidak memihak kepada rakyat bawah terutama petani.

Baca juga  Jelang Nataru, Ketum Federasi TPI Sarbumusi NU Ingatkan Pemerintah

Pada bulan-bulan berikutnya, gerakan tersebut meningkat dengan cepat saat para siswa membentuk kelompok paramiliter yang disebut Pertahanan Merah dan menyerang serta melecehkan kelompok manula dan intelektual China. Sebuah kultus kepribadian ditujukan kepada Mao, sama seperti orang Uni Soviet mengkultuskan Josef Stalin. Pemikiran Mao yang disebut Maoisme, kemudian banyak didalami oleh faksi-faksi pergerakan di China.

Gerakan Revolusi Kebudayaan ini bertujuan untuk mengembalikan kultur dan budaya Cina yang telah dikuasai oleh kaum borjuis dan sistem kapitalisme, Mao ingin membangkitkan kesadaran masyarakat Cina, agar menggunakan identitas sendiri. meskipun sejarah kemudian mencatat, terdapat kesalahan moral dan tergolong tidak manusiawi dalam mewujudkan cita-cita revolusi, sebagaimana kajian sejarah yang ditulis oleh Frank Dikotter diawal tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *