PILIHANRAKYAT. ID, Probolinggo-Dalam kunjungan saya ke berbagai desa di Kabupaten Probolinggo, saya banyak mendengar cerita yang menyentuh nurani.
Sejumlah warga mengungkapkan rasa kecewa karena merasa tidak dilibatkan dalam proses pembentukan koperasi. Bahkan, ada yang menyampaikan bahwa kepengurusan sudah ditentukan sejak awal, tanpa ruang musyawarah yang sejati. Pertanyaan pun mencuat dengan getir: “Apakah suara kami masih berarti?”
Kita perlu kembali pada semangat asli koperasi, yakni gotong royong, partisipasi, dan keadilan. Koperasi bukanlah kendaraan politik, bukan pula warisan keluarga. Ia adalah wadah bersama, tempat seluruh anggota memiliki hak yang setara untuk menentukan arah dan kebijakan. Bila dari awal prosesnya sudah tidak inklusif, maka koperasi itu telah kehilangan rohnya.
Pengurus koperasi haruslah orang-orang yang hadir untuk melayani, bukan untuk menguasai. Koperasi sejati tidak mengenal elitisme. Ia tumbuh dari partisipasi, bukan dari keputusan sepihak. Maka, jika masyarakat tidak diajak bicara, kita patut bertanya: koperasi itu sebenarnya milik siapa?
Kami mengajak seluruh pihak, khususnya para penggerak koperasi di tingkat desa, untuk membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Berdayakan warga, libatkan mereka dalam proses, dan jadikan koperasi sebagai rumah bersama. Sebab hanya dengan begitu, koperasi akan benar-benar hidup dan membawa manfaat untuk semua.
Oleh: Ketua DKC Garda Bangsa Kabupaten Probolinggo




