Rabu, 13 Juni 2012 / 14:04
“Selamat siang menjelang sore, cinta!”
Sudah tiba waktunya kusapa engkau dengan tenang di siang yang cukup memabakar ini. Sebab adamulah aku juga mampu bertahan untuk terus menjaga segala yang hadir, segala yang lahir dalam hidup dan kehidupanku. Sungguh tiada yang sia-sia selama ini sejak aku bersamamu. Pun dengan catatan ini, sudah aku persiapkan sejak lama untuk aku jadikan teman setiap waktu jika sekali-kali kau meminta untuk tidak menghadiri pertemuan-pertemuan yang senantiasa kita indahkan dengan percakapan-percakapanyang tidak jarang terkesan konyol.
![]() |
| Sumber Gambar: Doc Achmad Sulaiman/Pilihan Rakyat |
Kini, siang ini kau duduk tepat di hadapanku saat aku sedang menulis catatan ini. Kau pun asik merajut benang dalam gulungan, dengan warna putih tulang dan warna ungu yang cantik. Aku suka warna campurannya, aku sangat suka warna ungu. Tapi, aku lebih suka menulis catatan ini –teman paling setia saat kau benar-benar bosan dengan keadaan. Sebagaimana kini, meski kau duduk tenang di depanku, kau masih sempat bilang, jika kau merasa bosan akan suasana dan keadaan yang sedang kita jalani. Tapi, tidak mengapa, aku cukup maklum. Sebab aku mencintaimu.
Cintaku, menulis catatan ini, sema berharganya bagiku dengan mengabadikan adamu di hidupku. Walaupun aku juga sadar bahwa, catatan ini pun penuh dengan kegelisahan-kegelisahan yang tumpah di warung-warung kopi. Kegelisahan yang memucatkan wajah-wajah memar oleh kecupan ketakutan yang disengaja. Tentu kau pun paham, bukankah aku senantiasa cerita padamu tentang keadaan yang memelukku dalam proses dan setiap aktivitas-aktivitas keseharianku.
Sebagaimana juga kau tahu tentang segala aktivitasku (yang katamu – sia-sia). Namun buatku setiap aktivitas akan beriring dengan sebuah usaha yang tak nampak. Aku tidak perlu menjelaskan semua alasan-alasan itu, sebab aku tahu, kau akan anggap alasanku itu tak lain dari sebuah apologi atau bahkan alibi semata. Aku sudah cukup bahkan sangat paham tentang siapa dirimu. Namun aku juga tahu bahwa engkaulah cintaku.
Puisi. Barangkali sangat tepat untuk sebuah umpama dari sekian aktivitas-aktivitas yang kau lakukan (bersamamu). Puisi selalu aku tuliskan, aku baca dan aku hidupkan bersamamu. Cinta dan dirimu adalah ruhnya. Seperti sesiang ini, aku telah selesai membaca puisi di depan umum dua kali.
Pertama, tepat saat matahari lurus di atas kepala, aku keluar dari kamar untuk sebuah permintaan baca puisi di antara orang-orang yang berlalu lalang dalam kesibukannya. Mereka mulai senang dan akrab membacakan puisi-puisi penyair besar di area bebas. Panggung bagi mereka untuk membaca puisi adalah di mana saja. Di kerumunan orang-orang tentunya. Bukan pekerjaan yang sia-sia bagi saa. Kehampaan dada akan sirna oleh puisi. Kebosanan orang0rang oleh kebisingan di siang bolong akan sedikit nyaman kedengarannya oleh pembacaan puisi (bagi saya). Itulah sebabnya saya berpanas-panasan untuk membaca puisi di area kampus, walaupun suara mesin kendaraan kedengaran melahap suaraku saat baca puisi.
Kedua, warung kopi, ya di warung kopi orang-orang duduk melepas kepenatan-kepenatan masing-masing. dan bagi para seniman, di warung kopi juga tempat untuk berekspresi sebebas-bebasnya. Membaca puisi adalah pekerjaan yang sederhana selain hanya saling menertawakan sambil menyeduh kopi dan menghisap berbatang-batang lisong. Lagi, aku terpanggil untuk baca puisi di atas kursi di warung kopi, tempat segala masalah akan terselesaikan: tempat masalah bermula pula.
Sedang tentang puisi yang kubacakan ada baiknya kutuliskan di sini padamu. Dua puisi yang kutulis dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jogja. Dua puisi yang tak sempat kukonfirmasi riwayat dan sejarahnya.
Pekabar Datang di Bandung
pekabar datang membawa bekas luka tembakan yang masih basah oleh darah
ia menancapkan bambu runcing di tanahku yang merindukan hujan
“ini tanah perjuangan; bandung lautan api, dulu!”
teriaknya melepas dada ke udara
tubuhku terguncang pada uraian-uraian peristiwa
yang mencekik leherku setiap jeda
serasa waktu yang berputar telah sepakat bahwa
pada setiap bahasa adalah luka dan luka
dan aku pun merasa setiap kalimat-kalimat yang mengalir dari rongga dadanya
adalah amarah atas segala hidup yang bernafas dalam ingatan
hanya kobaran api yang segera membakar sisa usia yang kian getir oleh tirani
sebab gerakan tak lagi punya gertak
setiap langkah tak lagi punya daya
sampai ajal tiba di tepi takdir sang pekabar
Bandung, April 2010
Sajak Kereta Ekonomi
terus terngiang parau suara asing itu
menapak jalan-jalanku tak bertepi
menjaring malam dengan semangat matahari
menjarah hidup seharian dengan wajah bulan
dan malam itu di depan stasiun tugu
tak lagi memancar semangat matahari
tak berbinar aura rembulan
hanya bunyi prikik beri isyarat
“Kereta Ekonomi segera berangkat”
Yogyakarta, 2011
Begitulah dua puisi yang sempat kubacakan pada teman-teman di meja warung kopi. Aku hanya ingin baca puisi yang aku tulis. Aku ingin tahu bagaimana puisiku. Tentu, tentu, dua puisi yang kutulis dan telah kubacakan itu, masih jauh dari kebagusan. Aku mengerti dan paham itu. Tetapi bersama catatan ini, akau akan terus belajat mencintai dengan baik dan menulis puisi lebih baik lagi.
Bersambung…. baca selanjutnya…. #8
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


