PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda merilis peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sebagian besar wilayah Jawa Timur hingga 9 Desember 2025. Lembaga itu menyebut periode sepekan mendatang sebagai fase krusial karena dinamika atmosfer di atas Jawa Timur menunjukkan penguatan aktivitas awan konvektif yang memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Dalam laporan resmi yang dirilis akhir pekan ini, BMKG menjelaskan sejumlah fenomena atmosfer sedang melintas di atas Jawa Timur mulai dari gelombang Kelvin, Rossby, hingga pola tekanan rendah di sekitarnya. Kombinasi faktor itu, ditambah suhu muka laut yang masih tinggi di perairan sekitar Madura serta kondisi atmosfer yang lembap dan labil, menjadi pemantik cuaca ekstrem sejak awal Desember.
“Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berpeluang terjadi di banyak wilayah Jawa Timur,” demikian rilis BMKG Juanda.
Rentetan Wilayah Terdampak
Dalam daftar yang sama, BMKG mencatat wilayah dengan risiko tertinggi meliputi kawasan pesisir utara—Bjonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya—srta sejumlah daerah lain seperti Sidoarjo, Probolinggo, dan kawasan pegunungan di tapal kuda. Karakteristik geografis yang beragam membuat dampak cuaca ekstrem berbeda: dataran rendah berisiko banjir, sementara wilayah berbukit rentan longsor.
BMKG juga menggarisbawahi potensi cuaca berubah cepat, memicu fenomena angin kencang lokal atau hujan dengan durasi singkat namun intens.
Risiko Hidrometeorologi Meningkat
Peringatan ini datang seiring meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi di sejumlah kabupaten dalam dua pekan terakhir. BMKG meminta pemerintah daerah siaga terhadap kemungkinan banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga terganggunya jaringan transportasi akibat cuaca mendadak.
“Koordinasi dan kesiapsiagaan harus ditingkatkan agar potensi kerugian dapat ditekan,” ujar BMKG.
Imbauan bagi Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca harian melalui kanal resmi, menghindari aktivitas di ruang terbuka saat tanda-tanda hujan ekstrem muncul, serta mewaspadai wilayah rawan bencana seperti bantaran sungai, tebing curam, dan daerah dengan sistem drainase buruk.




