Daerah  

Ekspor ke Kazakhstan: Saatnya Petani dan Pengusaha Muda Indonesia Naik Kelas

PILIHANRAKYAT.ID, Jember-Indonesia adalah negeri dengan tanah subur, tangan-tangan terampil, dan semangat dagang yang diwariskan sejak zaman rempah-rempah.

Tapi kekuatan ini belum sepenuhnya tercermin dalam hubungan dagang kita dengan banyak negara non-tradisional, termasuk Kazakhstan—sebuah negara dengan potensi pasar yang sedang tumbuh di Asia Tengah.

Sebagai Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh Jember, saya melihat sendiri bagaimana komoditas pertanian Indonesia bisa bersaing di pasar ekspor, asalkan kita cermat dalam memilih produk dan pasar sasaran.

PT Mitratani Dua Tujuh merupakan perusahaan berbasis agribisnis yang telah lama bergerak dalam ekspor edamame (kedelai Jepang) dan okra (sayuran tropis bernutrisi tinggi) ke berbagai negara, termasuk Jepang, Korea, dan Amerika Serikat.

Kini, saya meyakini bahwa pasar seperti Kazakhstan juga menyimpan potensi besar bagi produk-produk seperti edamame dan okra.

Kedua komoditas ini bukan hanya sehat dan tinggi nutrisi, tetapi juga cocok dengan tren konsumsi pangan modern yang makin mengedepankan gaya hidup sehat dan makanan nabati.

Kazakhstan sendiri, dengan populasi Muslim dan iklim subtropis, sangat terbuka pada produk pangan segar dan olahan dari negara tropis seperti Indonesia.

Namun saat ini, Indonesia justru masih mengalami defisit perdagangan terhadap Kazakhstan. Berdasarkan data tahun 2023, ekspor kita hanya mencapai USD 111 juta, sedangkan impor dari Kazakhstan mencapai USD 232 juta, didominasi oleh minyak bumi, gas alam, serta besi dan baja.

Baca juga  Tagar #BoikotTrans7 Menggema, Pernyataan Permintaan Maaf Trans7 Viral di TikTok

Ini menjadi catatan penting bahwa kita masih terlalu bergantung pada impor komoditas berat, sementara belum menjual cukup banyak komoditas unggulan kita.

Bagi saya, kondisi ini justru menjadi tantangan sekaligus peluang. Ekspor edamame dan okra bisa menjadi pintu masuk Indonesia ke pasar Asia Tengah, sekaligus membantu mengangkat kesejahteraan petani lokal, khususnya di wilayah Jember dan sekitarnya.

Model kemitraan yang kami jalankan dengan petani telah terbukti memberikan nilai tambah yang adil, dengan orientasi ekspor yang jelas dan berkelanjutan.

Di sisi lain, pengusaha muda Indonesia, terutama yang tergabung dalam HIPMI, juga perlu lebih aktif menjelajahi pasar-pasar seperti Kazakhstan. Potensi mereka sangat besar, terlebih dengan dukungan teknologi, kemudahan logistik, dan semangat untuk go global.

Produk-produk pangan, halal, herbal, kosmetik alami, dan home goods dari Indonesia bisa menjadi komoditas unggulan baru jika dipasarkan dengan pendekatan yang tepat.

Baca juga  Gaya Gus Hilmy Dikagumi Oleh Kader NU

Pemerintah tentu punya peran besar, baik dalam hal penyusunan perjanjian dagang bilateral, fasilitasi promosi ekspor, hingga akses pembiayaan dan logistik ekspor.

Namun yang tak kalah penting adalah kolaborasi lintas sektor—antara perusahaan seperti kami, UMKM, pelaku logistik, asosiasi eksportir, dan komunitas usaha muda.

Hanya dengan bergerak bersama, ekspor Indonesia bisa menembus pasar-pasar baru secara lebih agresif dan berkelanjutan.

Perlu diketahui pula, bahwa Indonesia saat ini menikmati surplus neraca perdagangan nasional selama 59 bulan berturut-turut hingga Mei 2025.

Artinya, kita punya modal kepercayaan diri yang kuat untuk memperluas ekspor, termasuk ke kawasan yang belum tergarap maksimal seperti Asia Tengah.

“Dari ladang petani Jember, edamame dan okra kami telah menjelajah ke Jepang dan Amerika. Kini saatnya perusahaan agribisnis Indonesia buka jalan ke Kazakhstan—agar dunia mencicipi pangan sehat dari bumi Indonesia.”

Kazakhstan bukanlah pasar yang jauh. Ia adalah peluang nyata yang bisa membuka jalan baru bagi ekspor Indonesia.

Saatnya kita tidak hanya menjadi pembeli komoditas mentah dari mereka, tapi juga menjadi penjual komoditas unggulan yang lahir dari tangan petani dan pengusaha muda bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *