Daerah  

Hujan Deras Bikin Tembakau Probolinggo Layu, Petani Menjerit Rugi

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Ratusan petani tembakau di Kecamatan Paiton, Besuk, dan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, menanggung kerugian besar. Tanaman yang mestinya siap panen pada akhir Agustus mendadak layu setelah diguyur hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Tembakau yang dikenal sensitif terhadap air berlebih itu tak kuasa menahan curah hujan tinggi. Batang lembek, daun membusuk, dan sebagian lahan dinyatakan gagal panen total.

Kamal (38), petani Desa Tanjung, Paiton, hanya bisa pasrah. “Saya tanam sejak Juni, rencananya panen bulan ini. Tapi begitu hujan turun berturut-turut, daun langsung habis. Saya rugi belasan juta,” katanya, Jumat, 22 Agustus 2025.

Baca juga  Gaji Guru: Negara Wajib, Bukan Pilihan

Ia menghitung satu hektare tembakau membutuhkan biaya Rp10–15 juta, mulai dari pengolahan lahan hingga perawatan. “Tahun lalu hasilnya bagus. Tahun ini gagal total,” ujarnya dengan wajah muram.

Hal serupa dialami Suhari (49), petani Krejengan. Menurutnya, kerusakan kali ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Biasanya hujan ringan masih bisa diatasi. Tapi sekarang, sekali hujan deras saat puncak panen, tembakau langsung hancur,” katanya.

Akibat kerusakan meluas, pasokan tembakau kering dari Probolinggo dipastikan berkurang. Padahal kualitas tembakau dari Paiton dan Krejengan selama ini jadi andalan pabrik rokok lokal maupun nasional.

Ironisnya, meski pasokan anjlok, harga di tingkat petani justru terjun bebas. Daun rusak tak lagi dilirik pembeli. “Biasanya daun bagus laku Rp35–40 ribu per kilo, sekarang paling Rp10 ribu,” kata seorang pengepul.

Baca juga  833 Kasus TBC Ditemukan di Balikpapan, 21 Meninggal Dunia hingga April 2025

Petani berharap ada langkah konkret pemerintah untuk menolong mereka, baik dalam bentuk bantuan darurat maupun edukasi menghadapi perubahan iklim. “Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar pendataan. Kalau tidak ada bantuan, musim tanam berikutnya bisa gagal lagi,” ujar Suhari.

Perubahan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan tembakau lokal. Tanpa perlindungan terhadap gagal panen dan teknologi adaptif, masa depan petani tembakau kian suram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *