PILIHANRAKYAT.ID, Semarang-Ratusan buruh dari berbagai serikat pekerja di Jawa Tengah menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor gubernuran, Jalan Pahlawan, Semarang, Senin, 8 Desember 2025. Mereka menuntut kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 sebesar 8,5 hingga 10,5 persen. Aksi berlangsung ricuh setelah gerbang kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah jebol saat massa berusaha menerobos masuk.
Massa aksi yang membawa bendera serikat, spanduk tuntutan, serta poster penolakan upah murah itu mulai memadati kawasan gubernuran sejak siang hari. Orator dari mobil komando menyampaikan bahwa kenaikan upah diperlukan untuk menyesuaikan lonjakan biaya hidup dalam satu tahun terakhir.
“Upah saat ini tidak mencukupi kebutuhan dasar buruh. Pemerintah harus menetapkan kenaikan yang layak,” ujar salah satu perwakilan buruh dalam orasinya.
Ketegangan meningkat ketika massa mendekat ke pintu gerbang utama kantor gubernuran. Dorongan terjadi berulang kali, hingga akhirnya gerbang besi roboh setelah tekanan massa memuncak. Aparat kepolisian memperketat barisan untuk mencegah massa memasuki halaman dalam kantor gubernur. Koordinator lapangan kemudian meminta peserta aksi mundur dan kembali ke titik orasi untuk meredakan situasi.
Selain menuntut kenaikan upah, massa juga memprotes Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengupahan yang dinilai tidak berpihak pada buruh. Mereka menilai formulasi pengupahan dalam rancangan aturan tersebut berpotensi mempertahankan upah rendah di Jawa Tengah.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah menyampaikan bahwa kenaikan upah yang wajar hanya berada pada kisaran 4–5 persen. Organisasi pengusaha itu menilai kondisi industri belum sepenuhnya pulih dan membutuhkan kepastian regulasi sebelum penentuan upah minimum ditetapkan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum memberikan keputusan resmi terkait besaran UMP 2026. Pemprov menyatakan masih menunggu penyelesaian regulasi pengupahan dari pemerintah pusat sebelum menetapkan kebijakan.
Aksi yang sempat memanas itu berakhir pada sore hari setelah massa membacakan pernyataan sikap dan membubarkan diri secara bertahap. Insiden jebolnya gerbang gubernuran menjadi catatan penting eskalasi tuntutan buruh menjelang penetapan upah minimum tahun depan.




