PILIHANRAKYAT.ID, Bali-Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan peringatan keras kepada kadernya dalam pidato politik Kongres ke-6 PDI-P di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Sabtu (2/8/2025). Ia tidak hanya menyentuh isu kekalahan partai, tapi juga menyentil gejala kemunduran militansi kader yang menurutnya sudah mulai “berhenti mendengar suara rakyat”.
Di hadapan ribuan kader dan elite partai, Megawati berbicara dengan nada tegas dan penuh kekecewaan saat membahas hasil Pemilu 2024. Ia menyoroti kekalahan di Jawa Tengah, wilayah yang selama ini menjadi simbol kekuatan PDI-P secara ideologis dan historis.
“Jawa Tengah itu bukan sekadar wilayah administratif. Itu jantung kita. Kalau jantung melemah, maka tubuh tidak bisa bertahan,” kata Megawati, dalam pidatonya yang disiarkan langsung oleh kanal YouTube resmi PDI-P dan dilaporkan sejumlah media.
Namun, berbeda dengan penyampaian biasanya, kali ini Megawati lebih reflektif. Ia tidak menyalahkan lawan politik ataupun faktor eksternal. Justru, ia menyoroti internal partai yang dinilai terlalu nyaman dengan kemenangan masa lalu.
“Jangan merasa aman hanya karena kita sudah lama menang. Rakyat sekarang tidak bisa ditenangkan dengan slogan. Mereka ingin bukti,” tegasnya, sambil sesekali menunjuk barisan pengurus DPD dan DPC.
Dalam beberapa pengamatan, kekalahan PDI-P di Jawa Tengah disinyalir terjadi akibat berbagai faktor: kejenuhan publik, dinamika tokoh lokal yang tidak diakomodasi, hingga komunikasi politik yang terputus di tingkat akar rumput.
Pernyataan Megawati di kongres ini menjadi semacam otokritik langka yang jarang muncul dalam forum besar partai. Ia bahkan menyebut bahwa “aroma kekuasaan” kadang membuat sebagian kader lupa pada kerja-kerja kerakyatan.
Kongres ke-6 PDI-P ini bukan hanya menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga menjadi momen pencarian arah baru. Terutama menjelang Pilkada 2025, di mana partai harus membuktikan apakah mereka masih menjadi representasi politik wong cilik atau justru menjadi kekuatan elite yang terasing dari basisnya sendiri.
Satu hal yang pasti, pidato Megawati hari ini bukan sekadar refleksi politik. Ini peringatan keras dari seorang ibu partai agar PDI-P tidak menjadi partai besar yang kehilangan akar dan lupa jalan pulang.




