PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Di sebuah ruang pertemuan berornamen klasik, Musyawarah Provinsi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jawa Timur, yang digelar di Surabaya pada Minggu (11/1), tidak hanya sekadar ajang seremonial pergantian pengurus. Lebih dari itu, forum ini mencerminkan keresahan sekaligus harapan besar tentang masa depan bulu tangkis di provinsi yang pernah melahirkan puluhan pebulutangkis nasional.
Ketua Umum Pengurus Pusat PBSI, Komjen Pol. Dr. H. M. Fadil Imran, membuka Musprov dengan nada tegas tetapi tak kehilangan rasa refleksi. Menurut dia, evaluasi kinerja pengurus periode sebelumnya menjadi kunci agar Jawa Timur tetap relevan dalam siklus pembinaan yang semakin kompetitif. “Evaluasi yang jujur dan perencanaan yang matang bukan sekadar slogan,” ujarnya di depan puluhan pengurus dan undangan.
Evaluasi itu datang di tengah derasnya arus prestasi dan tuntutan baru. Dari ajang SEA Games 2025 misalnya, kontribusi atlet Jawa Timur menjadi salah satu tonggak keberhasilan tim nasional. Fadil menyebut capaian itu sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh termasuk konsolidasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Di tengah sorot lampu evaluasi, Musprov juga menjadi panggung bagi kepemimpinan baru yang berulang. Tonny Wahyudi kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PBSI Jawa Timur periode 2026–2030, menandai kepercayaan penuh dari pengurus kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Sesaat setelah terpilih, Tonny menegaskan ambisinya: membidik medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, yang akan berlangsung di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. “Langkah awal adalah merapikan struktur kepengurusan dan memprioritaskan pembinaan berjenjang,” kata Tonny, seraya menyinggung kepercayaan PBSI Pusat untuk menjadikan Jawa Timur tuan rumah Pusat Latihan Wilayah (Puslatwil) Indonesia Timur.
Momen evaluasi dan aspirasi tinggi itu bagaikan dua sisi mata uang yang saling membutuhkan. Di satu sisi, PBSI Jatim diharapkan mampu mempertahankan tradisi kuat dalam mencetak atlet berprestasi nasional dan internasional. Di sisi lain, tuntutan untuk beradaptasi dengan dinamika global menjadi urgensi yang tak bisa diabaikan.
Dalam ruang pertemuan yang sama, Ketua KONI Jawa Timur pun menyatakan apresiasi terhadap peran PBSI Jatim dalam ekosistem olahraga provinsi. Meski dapur prestasi sering mengepul, jalan menuju puncak medali masih panjang — dan memerlukan sinergi antara pelatih, atlet, pengurus, dan pemangku kebijakan olahraga.
Musprov PBSI Jatim 2026, dengan demikian, bukan sekadar forum administratif. Ia menjadi tempat di mana evaluasi bertemu target, di mana pengalaman bertemu ambisi, dan di mana tradisi bertemu harapan baru.




