Perempuan Sebagai Objek

Perempan Makhluk Beharga (foto: ist)
Perempan Makhluk Beharga (foto: ist)

(Oleh: Tan Hamzah)

PILIHANRAKYAT.ID, Isu perempuan sebagai objek mungkin akan banyak yang mengkritik dan menyangkal, karena feminism yang tumbuh seiring meletusnya revolusi industri mengingingkan perempuan sebagai subjek. Keadaan sebagai subjek atau pelaku ialah hak manusia, tetapi dalam kenyataan yang disimpulkan oleh pengamat sosial, justru perempuan ditempatkan sebagai objek saja, dan sangat sedikit bertindak sebagai subjek, sebagai penggerak sosial. Konstruk pemikiran dan penempatan ini mungkin akan dimarahi oleh tokoh eksistensialis, seperti Sartre, De Beauvoir, dan Immanuel Kant, tapi tokoh seperti Schopenhauer pasti akan membela, kau tahu karena ia sering patah hati, ditolak perempuan yang dicintainya.

Objek yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah mendiskreditkan perempuan, tapi sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan, perempuan itu kalimat utuh yang tak cukup sekedar dilisankan, kata Sapardi. Tiada definisi yang tepat untuk menjelaskan, sebab kerahasian tentangnya merupakan seni memahami yang cukup rumit tapi menyenangkan. Perempuan itu indah sebagai fiksi dan berbahaya sebagai fakta, menurut Bung Rocky, bagi saya dimanapun akan sama bahaya, jika kita tidak mampu mengerti tentangnya, tapi dalam fiksi justru lebih menarik, karena perempuan ditafsirkan dari tangan seorang sastrawan.

Baca juga  Sastrawan Nusantara Diundang Ikuti Event Erupsi Sastra Nusantara 2019

Gusti Firoza Damayanti Noor, istri mendiang musisi legendaris Chrisye, baru saja berpulang, saya ikut merasa kehilangan, karena lagu-lagu Chrisye yang selama ini menemaniku membaca buku dan menulis telah lama bergema di telinga, sejak SMA aku sudah memutar lagu-lagu cintanya, ya aku suka, tapi aku menghargai seseorang dibalik Chrisye, Yanti Noor. Sudah menjadi kebiasaan ketika aku mencintai sesuatu aku akan mencari tahu lebih dalam, dan ketika aku mendengar lagu-lagu cinta Chrisye, maka aku menganggap lagu itu untuk sang istri. Keduanya sekarang telah tiada, tapi lagu dan karyanya akan selalu diingat dalam lintas generasi, dan ada sosok perempuan yang mengiringi selama ia berkarya, perempuan menjadi sumber inspirasi dan kreativitas, dalam hal ini eksploitatif justru berbuah romantis.

Dalam dunia sastra tidak jauh berbeda, berapa banyak karya puisi, cerpen, novel yang terinpirasi dari perempuan, dalam tulisan ini saya tidak mengulas para perempuan yang menulis, tapi lelaki yang menulis perempuan, tetapi bukan untuk membedakan, keduanya mempunyai porsi yang sama, dan sudah terbukti banyak perempuan juga sebagai penulis dan subjek.

Baca juga  Perempuan dalam Genggaman Pasar

Penyair besar seperti Kahlil Ghibran punya Selma karami, Chairil punya banyak, salah satunya Sri Ajati, Sapardi punya Wardiningsih, dan Joko Pinurbo dengan peran Ibu yang ia tulis, dan masih banyak lagi. tentu nama tersebut tidak tertulis secara langsung (tersurat) dalam setiap puisinya, tetapi kehadiran mereka, yang melahirkan puisi itu indah. Pernah ada orang bertanya pada saya, bagaimana cara menulis puisi yang bagus, rumusnya ada dua, satu jatu cinta, otomatis kamu akan menjadi penyair, yang kedua patah hati, dan yang kedua akan membuat karyamu lebih indah. Tentu konteksnya bukan soal perempuan, tapi fleksibel dalam lingkup sosial.

Perempuan sebagai objek dalam karya seni seperti seni rupa, musik, maupun sastra, ada yang mengkritik dan ada juga yang mendukung, tiada masalah, sebab seni akan dimengerti oleh yang paham seni. Perempuan yang menjadi inspirasi dalam menulis merupakan sosok yang unik, dan perempuan yang dituliskan puisi, merupakan perempuan yang akan terus dikenang, bersama puisi tersebut, akan abadi, sampai tidak ada lagi orang yang membaca, meski tidak ada yang membaca, dia sudah hidup dalam bahasa manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *