Marsinah Belum Mati

Marsinah (foto: detik.com)
Marsinah (foto: detik.com)

Oleh: Ulfa Ucil*

PILIHANRAKYAT.ID, Siapa yang tidak kenal dengan Marsinah?. Seorang aktifis dan buruh perempuan pada masa pemerintahan orde baru. Ia bekerja disebuah Pabrik pembuatan alroji waktu itu. Namanya kemudian dikenal banyak orang karena keberaniannya dalam menentang atasannya dalam mempertahankan dan menyuarakan keadilan upah para buruh yang tidak sesuai dengan surat edaran dari gubernur Jawa Timur. Marsinah dan teman-teman lainnya melakukan mogok kerja dan demonstrasi . Sampai pada akhirnya di tahun 1993 Marsinah sudah ditemukan meninggal setelah beberapa hari dikabarkan menghilang. Tidak dietemukan siapa pembunuhnya. Bahkan kejadian itu tidak diusut sampai tuntas dan kisah yang menimpanya itu ikut terkubur bersama jasadnya yang sudah tertimbun tanah.

Kini Marsinah hidup kembali dan kehidupannya yang sekarang jauh sangat berbeda dengan yang dulu. Marsinah hidup kembali bukan untuk balas dendam terhadap orang yang telah membunuh dan tidak berbuat adil kepadanya. Marsinah hidup kembali untuk memperjuangkan hidupnya yang baru. Ia menjelma sosok perempuan cantik seperti bidadari, kulitnya putih dan bersih seperti terpancar cahaya di wajahnya. Matanya sebening embun di pagi hari serta tatapannya yang tenang. Meskipun di pipinya ada guratan keriput karena usinya yang sudah tidak mudah lagi, namun itu tidak mengurangi kecantikannya.

Marsinah terlihat sedang sibuk di dapur. Sejak subuh dia sudah bangun menyiapkan segalanya. Mulai dari menyalakan tungku, menanak nasi, menggoreng ikan pindang, mencuci piring dan baju, menyapu halaman, dan lain-lain. Semua itu ia lakukan sendiri. Setelah semua urusan rumah selesai ia akan berpamitan kepadaku untuk pergi bekerja di rumah majikan barunya. Ia bekerja menjadi tukang cuci baju, berangkat jam tujuh pulang jam dua belas siang.

Ketika malam, aku dan Marsinah akan duduk di beranda rumah sambil bercerita tentang kejadian apa saja yang dialami selama saharian tadi. Terkadang obrolan kami ditemani dengan secangkir kopi dan pisang goreng atau hanya suara jangkrik dibalik semak belukar ketika persediaan kopi dan gula serta tabung gas untuk menggoreng pisang habis.

Marsinah pernah bercerita kepadaku bahwa pernah suatu hari ia dilamar oleh seorang laki-laki yang sudah duda dan sangat kaya raya. Lelaki itu berjanji akan membahagiakan Marsinah dan akan memberikan apa saja yang Marsinah inginkan. Tetapi Marsinah menolak lamaran itu. Ia tidak mau menikah lagi setelah pernikahan pertamanya gagal dan lelaki yang sangat dicintainya pergi tak pernah kembali. Ia ingin menikmati hidup ini tanpa harus membebankan seorang lelaki dalam menafkahinya. Masalah uang ia akan terus bekerja setiap hari untuk makan, sekolahku, dan untuk kebutuhan lainnya.

***

Siang itu, Marsinah sedang duduk di teras rumah. Kulihat dari jauh tampak wajahnya murung dan sedih, waktu itu aku baru datang dari sekolah. Tatapan matanya kosong. Ia seperti memikirkan sesuatu. Perlahan aku berjalan mendekatinya. Saat langkahku sudah dekat ia sepertinya tidak sadar kalau ada orang yang datang. Aku memanggil salam ketika langkahku sudah sampai didepannya hanya saja dia masih belum sadar dari lamunannya. Sampai salam kedua kalinya ia tersentak karena kedatanganku. Ia melemparkan senyum kepadaku dan kurasa senyum itu dipaksakan. Aku mencium tangannya dan sebenarnya aku ingin duduk disampingnya menanyakan apakah dia baik-baik saja atau ada masalah. Tetapi kuurungkan niatku, aku langsung masuk kedalam, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dulu, nanti kalau waktunya sudah tepat akan aku tanyakan. Aku memahami semua itu.

Baca juga  Rahasia Semesta

Dari jendela kamar, diam-diam aku memperhatikannya. Tak seperti biasanya ia seperti itu. Dari matanya aku melihat pancaran kesedihan. Aku yakin cepat atau lambat ia pasti akan bercerita kepadaku sekecil apapun masalahnya karena kami telah berjanji untuk tidak ada rahasia diantara kita. Sepahit apapun masalah yang menimpa, kita harus telan bersama dan semanis apapun kebahagiaan yang datang kita juga harus menjalaninya bersama. Itulah yang sering ia ajarkan kepadaku. Aku yakin ia pasti akan bercerita kepadaku hanya saja mungkin ia butuh waktu. Ku harap ia baik-baik saja sebab ia terlalu banyak menanggung beban hidup.

Aku sudah menduganya, pada malam hari saat kami duduk bersama diteras, ia pun mulai bercerita apa yang menyebabkan ia besrsedih tadi siang.  Ia bercerita secara detail sampai-sampai ia menangis saat menceritakan semuanya. Ia mengatakan bahwa ia dipecat dari pekerjaannya sebagai pencuci pakaian. Majikannya telah menuduh ia mencuri uang padahal dirinya tidak melakukan itu. Entah bagaimana si majikan bisa menuduhnya mencuri uang padahal ia tidak tahu apa-apa bahkan ia sampai bersumpah kalau memang benar ia yang mencurinya semoga hidupnya tidak akan tenang. Si majikan tidak mau tau dan jalan satu-satunya ia di pecat tanpa diberikan gaji. Namun ada satu hal yang baru aku tau sekarang, selain ia dituduh sebagai pencuri, salama ini ia juga digaji tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Ia hanya diam dan menerima saja diperlakukan demikian sebab baginya yang penting ia mendapatkan pekerjaan yang halal dan mendapatkan uang meskipun tidak sesuai dengan apa yang sudah ia kerjakan. Yang membuatnya sakit hati karena ia dituduh memcuri padahal selama ia kerja disana ia hanya menjalankan apa yang menjadi pekerjaannya. Bahkan ia tidak berani masuk sembarangan ke rumah majikannya itu kalau k ebetulan tidak ada orang. Ya…aku memahami bagaimana perasaannya. Ia begitu hancur tampak kulihat dari air mata yang mengalir dari pipinya pada saat dia menceritakan semuanya kepadaku. Sebenarnya ia cukup lelah menghadapi ini semua, tetapi ia mencoba menghiraukannya sebab ia tak ingin kehidupan kami sengsara. Ia mencoba tenang ditengah badai yang menerjangnya, ia mencoba tegar ditengah prahara yang menimpanya. Oh…Marsinahku, alangkaha malang nasibmu, nasib kita. Adakah luka yang lain setelah ini?. Benarkah Marsimah hanya diciptakan untuk menanggung setiap duka yang didatangkan kapadanya?. Padahala Marsinah hidup kembali untuk kehidupan yang baru, untuk kebahagiaan yang sempurna, untuk kehidupan yang lebih indah, dan untuk segalanya, bukan?.

Baca juga  Roti Pemberian Penyihir

Tanpa terasa air mataku menetes perlahan setelah mendengar semua ceritanya. Aku merasa bersalah karena selama ini aku begitu banyak membebaninya. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipiku dengan tangannya yang mulai keriput. Ia tidak rela aku menangisi kejadian ini, sebab ia tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia harus bangkit lagi untuk menjemput kehidupan yang lebih baik.  Disaat semuanya seperti badai yang datang silih berganti menerjang perahu yang kami tumpangi, ternyata ia sudah mengambil jalan lain. Ia memutuskan untuk pergi ke Malaysia jadi tenaga kerja wanita atau TKW disana. Aku tersentak mendengarnya. Secepat itukah ia mengambil keputusan seperti itu? hanya demi marsinah mengumpulkan pundi-pundi rupiah supaya kami bisa bertahan hidup?.

Ia meyakinkanku bahwa ini adalah jalan terbaik. Segera besok ia akan mendaftar jadi TKW dan mengurus segala keperluannya. Aku sebenarnya kurang setuju kalau harus berpisah dengannya apalagi secepat ini ia mengambil keputusan. Aku diam tidak mampu berkata-kata. Ia pun kembali meyakinkanku bahwa ia disana akan baik-baik saja dan ia juga berjanji kalau sudah dapat uang ia akan segera mengirimiku, dan untuk sementara waktu aku disuruh tinggal bersama bibiku yang rumahnya tidak jauh dari sini. Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh dirinya untuk selalu menemaniku, tetapi katanya ia harus bekerja supaya dapat uang dan bisa membiayai segala keperluanku, dan supaya tidak dianggap remeh oleh orang-orang yang banyak uangnya. Aku mencoba tegar dengan keputusannya yang sudah bulat dan menerima dengan ikhlas, toh katanya semua ini tidak akan lama. Tuhan menjanjikan kebahagian bagi setiap umatnya yang bersabar. Setelah hujan pasti ada pelangi, begitulah kata-katanya yang dapat meyakinkanku meskipun aku berat untuk melepas kepergiannya nanti.

***

Aku terisak dalam pelukannya. Ia benar-benar akan pergi hari ini meskipun ia pergi untuk kembali lagi. Oh…Marsinahku, berat hati ini untuk melepaskanmu. Bagaimana tidak??? Kau satu-satunya orang yang terpenting dalam hidupku. Ia mencoba menenangkanku dan mengusap air yang terus mengucur deras di pipiku. Ia menciumi pipiku berkali-kali, dan tanpa terasa ia harus berangkat. Aku hanya bisa mengantar sampai pagar rumah, dan diluar para tetangga sudah berkumpul untuk sekedar mengucapkan kata semoga selamat sampai tujuan, ada sebagian yang membawakan bekal.

Pada saat mobil yang akan membawanya pergi menuju Bandara datang, aku semakin terisak. Ia melangkah menuju mobil setelah bersalam-salaman dengan para tetangga. Ia melambaikan tangan dari dalam mobil, tatapannya dan tatapanku bertemu. Dari tatapannya itu, ia memberi isyarat kepadaku bahwa ia berjanji akan pulang lagi, ia berjanji untuk baik-baik disana, dan ia berjanji akan menjemput kebahagian untuk kita.

Aku berusaha tersenyum meski air mataku terus tumpah. Sosok perempuan yang kusebut Marsinah itulah ibuku. Ibuku yang selama ini banting tulang sendirian untuk menafkahiku, perempuan yang terkadang selalu dihina oleh orang-orang dengan keadaan kami yang kurang mampu. Ia adalah ibuku, ia adalah Marsinahku. Marsinah boleh saja mati dibunuh oleh orang yang tak dikenal karena memperjuangkan upah para buruh, tetapi Marsinah yang kusebutkan itu telah menjelma dalam diri ibuku. Perjuangan Marsinah terus berlanjut tetapi bukan memperjuangkan upah buruh lagi, melainkan memperjuangkan masa depanku supaya lebih baik. Ibuku, Marsinahku yang hidup kembali di peradaban yang semakin hingar bingar dengan kemunafikan. Marsinah belum mati…

Yogyakarta, 19 Januari 2020

*Sastrawan muda dari Madura yang saat ini belajar di Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *