PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Puluhan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Probolinggo menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Probolinggo, Senin, 2 Februari 2026. Mereka memprotes wacana pemilihan kepala daerah dan presiden oleh DPRD yang dinilai menggerus prinsip kedaulatan rakyat.
Ketua Pengurus Cabang PMII Probolinggo, Dedi Bayuangga, menilai wacana tersebut sebagai kemunduran demokrasi. Menurut dia, pemilihan langsung merupakan hak politik rakyat yang tidak boleh diambil alih oleh lembaga perwakilan. “Kalau kepala daerah dipilih oleh DPRD, lalu apa gunanya ada rakyat?” ujar Dedi saat menyampaikan orasi.
Dalam aksi tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo, Zubaidi, turut menemui massa dan duduk bersama peserta aksi dalam forum dialog terbuka. Kehadiran pimpinan dewan itu sempat meredakan ketegangan, sebelum situasi kembali memanas saat Zubaidi menolak menandatangani pernyataan sikap dan tuntutan yang diajukan PMII.
Zubaidi beralasan tidak semua poin tuntutan berada dalam kewenangan DPRD kabupaten. Ia menyinggung salah satu poin yang meminta sikap tegas agar pimpinan daerah dan presiden tetap dipilih langsung oleh rakyat. “Poin 16 ini saya tidak bisa menyanggupi karena ini bukan ranahnya saya,” kata Zubaidi di hadapan massa aksi.
Penjelasan tersebut memicu desakan dari peserta aksi. Massa meminta Zubaidi menyampaikan sikap pribadi terkait wacana tersebut. “Kalau menurut jenengan pribadi, sepakat atau tidak pimpinan daerah atau presiden dipilih oleh DPRD?” teriak salah satu massa. Namun, Zubaidi kembali tidak memberikan jawaban tegas.
Aksi demonstrasi PMII Probolinggo berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan berakhir tanpa bentrokan. Massa menyatakan akan terus mengawal isu demokrasi serta menolak kebijakan yang dinilai mengancam hak politik rakyat.




