Sayang
Sayang, sayang
sayang; Sayang
Sayang: Sayang
sayang. sayang
Merah
Oktober di Moskow
Bersemi di Berlin
Hujan melanda
Jamur tank merayap
Merah merah di jalan
Manusia berjalan tanpa bayangan
Palu, gergaji, mur, baut, linggis, bersatu
Tak bisa dihancurkan
Merah merah berbunga
Tangkai tiang depan rumah, ujung atap, ujung aspal, bertanda
Revolusi revolusi merah
Rusia lalu China
Bastille
Kuba
Chechnya
Merah darah, tumpah menjadi kelir baju
Menutupi aurat negara
Patah
Pernah satu ranting kuat lepas dari induk batang pohon.
Sebelum itu
Ranting yang hijau dan muda
Sayup sayup mengipas angin, menjahili burung yang singgah, menggapai ruang yang tidak tersentuh daun, melebar berharap tumbuh lebih besar, kuat dan kokoh, tempat menepi serangga dan hewan hutan.
Ranting serakah
Patah di tengah musim gugur, saat air menyusut, saat matahari enggan bangun, saat semua runtuh kecuali satu. Rindu
Ranting patah sendiri, luka sendiri, dan mati sendiri
Besok ia berharap tumbuh kembali, menjadi batang pohon yang kecil saja, sebagai tempat teduh dirimu, ketika kembali.
Sinopsis Rindu
Rindu menolak untuk ditulis, sebab ia begitu ambigu, tetapi tetap ada, dalam ruang yang tak bisa disketsa mata.
Rindu menuntun kembali pulang, lalu menuntut pergi dengan segera, sebab ia ingin sementara, waktu menyicil pertemuan agar tak mudah lelah.
Rindu bisu, tetapi berisik
Rindu memandu mata untuk terpejam sejenak, kemudian mengajari memotong jarak, sehingga terasa dekat, sangat dekat, mempertemukan kedua senyum dalam halu, menggetar dada secara pasif. Begitu ia bekerja, tidak punya jadwal, tak pernah tepat waktu. Berantakan
Tanpa tindu, waktu tak pernah diingat, tanpa cinta, sebuah arloji hanya benda mati, yang detaknya tak pernah dihargai.




