Sayang (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Sajak Sayang (foto: ist)
Sajak Sayang (foto: ist)

Sayang

Sayang, sayang

sayang; Sayang

Sayang: Sayang

sayang. sayang

Merah

Oktober di Moskow

Bersemi di Berlin

Hujan melanda

Jamur tank merayap

Merah merah di jalan

Manusia berjalan tanpa bayangan

Palu, gergaji, mur, baut, linggis, bersatu

Tak bisa dihancurkan

Merah merah berbunga

Tangkai tiang depan rumah, ujung atap, ujung aspal, bertanda

Revolusi revolusi merah

Rusia lalu China

Bastille

Kuba

Chechnya

Merah darah, tumpah menjadi kelir baju

Menutupi aurat negara

Patah

Pernah satu ranting kuat lepas dari induk batang pohon.

Baca juga  Sang Panglima Aksi (Bagian II)

Sebelum itu

Ranting yang hijau dan muda

Sayup sayup mengipas angin, menjahili burung yang singgah, menggapai ruang yang tidak tersentuh daun, melebar berharap tumbuh lebih besar, kuat dan kokoh, tempat menepi serangga dan hewan hutan.

Ranting serakah

Patah di tengah musim gugur, saat air menyusut, saat matahari enggan bangun, saat semua runtuh kecuali satu. Rindu

Ranting patah sendiri, luka sendiri, dan mati sendiri

Besok ia berharap tumbuh kembali, menjadi batang pohon yang kecil saja, sebagai tempat teduh dirimu, ketika kembali.

Baca juga  Sophia atau Suriah: Napak Tilas Peradaban

Sinopsis Rindu

Rindu menolak untuk ditulis, sebab ia begitu ambigu, tetapi tetap ada, dalam ruang yang tak bisa disketsa mata.

Rindu menuntun kembali pulang, lalu menuntut pergi dengan segera, sebab ia ingin sementara, waktu menyicil pertemuan agar tak mudah lelah.

Rindu bisu, tetapi berisik

Rindu memandu mata untuk terpejam sejenak, kemudian mengajari memotong jarak, sehingga terasa dekat, sangat dekat, mempertemukan kedua senyum dalam halu, menggetar dada secara pasif. Begitu ia bekerja, tidak punya jadwal, tak pernah tepat waktu. Berantakan

Tanpa tindu, waktu tak pernah diingat, tanpa cinta, sebuah arloji hanya benda mati, yang detaknya tak pernah dihargai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *