PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Delapan puluh tahun sudah bangsa Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Teriakan “Merdeka!” pada 17 Agustus 1945 bukan sekadar penanda lahirnya sebuah negara, melainkan puncak dari perjuangan panjang yang ditempa oleh darah, air mata, dan pengorbanan para pahlawan. Sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta, semangat persatuan dan tekad untuk bebas dari penjajahan menjadi energi kolektif yang menyatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Hari ini, delapan dekade setelah bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, kita dihadapkan pada tantangan yang jauh berbeda. Jika dulu musuh bangsa adalah penjajahan fisik, kini kita berhadapan dengan penjajahan baru yang lebih halus: ketimpangan ekonomi, ancaman disintegrasi akibat polarisasi politik, krisis lingkungan, hingga derasnya arus globalisasi digital yang membawa dampak positif sekaligus negatif.
Kita patut bersyukur karena pembangunan infrastruktur, peningkatan pendidikan, dan kemajuan teknologi membuat bangsa ini semakin kompetitif di mata dunia. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa masih banyak saudara kita yang hidup dalam kesulitan. Kesenjangan sosial, pengangguran, dan masalah kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.
Di usia ke-80 tahun kemerdekaan ini, kita dituntut untuk merefleksikan: sudah sejauh mana amanat para pendiri bangsa kita wujudkan? Kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan titipan perjuangan yang harus terus dirawat. Tugas generasi hari ini adalah memastikan nilai-nilai kebangsaan tidak luntur oleh kepentingan sesaat. Kita harus menjaga persatuan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menghidupkan semangat gotong royong di tengah derasnya arus individualisme.
Sebagai bagian dari warga Indonesia yang sah, SK_Community percaya bahwa kemerdekaan akan benar-benar bermakna bila seluruh rakyat dapat merasakan kesejahteraan. Peran komunitas, organisasi masyarakat, dan pemuda sangat penting untuk mengisi ruang-ruang kosong yang mungkin tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh negara. Kita perlu membangun solidaritas, memperkuat literasi digital, peduli terhadap lingkungan, dan mengembangkan kreativitas lokal agar Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga merdeka secara sosial dan ekonomi.
Delapan puluh tahun kemerdekaan adalah momentum untuk menegaskan kembali jati diri bangsa: berdaulat, adil, dan sejahtera. Mari kita jadikan peringatan ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan titik balik untuk memperkokoh persatuan dan menatap masa depan dengan optimisme. Seperti pesan Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Dari sejarah kita belajar, dari hari ini kita bekerja, dan untuk masa depan kita berjuang bersama.
Merdeka!
Sucipto
Ketua SK_Community




