PILIHANRAKYAT.ID, Malang-Pagi belum genap subuh ketika puluhan orang sudah mengantre di depan gerbang sebuah terminal tua di tengah Kota Malang, menunggu bus berwarna biru datang. Terminal itu adalah Terminal Hamid Rusdi, yang sejak Kamis (20/11/2025) lalu menjadi titik awal layanan baru Trans Jatim Koridor I Malang Raya.
Antrean panjang itu bukan sekadar tanda masyarakat gembira mencoba moda baru. Bagi sebagian pedagang di sekitar terminal warung makan, lapak kopi, jajanan kaki lima ini seperti angin segar. Mobilitas baru menarik potensi pelanggan: penumpang bus, warga lewat, mahasiswa, pekerja semua rawan mampir membeli sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa pedagang kecil pun mulai optimistis, membayangkan omzet meningkat, terutama pada jam sibuk saat bus datang dan pergi.
Namun, suara optimisme tak seragam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung layanan publik ini belum sepenuhnya siap. Hanya rambu pemberhentian yang sebagian sudah terpasang; shelter tempat menunggu dengan atap dan kursi untuk sementara belum tersedia. Jadi, meskipun terminal dan bus menyita perhatian, kawasan sekitar belum otomatis “hidup” dalam arti layak untuk jadi pusat perdagangan baru. Pedagang tetap perlu menyesuaikan lokasi berdagang, pola buka/tutup, stamina jauh-jauh datang.
Sejumlah sopir angkot, yang sebelumnya menggantungkan penghasilannya dari trayek tradisional, juga ikut terlibat dalam pembicaraan integrasi. Banyak dari mereka dipersilakan menjadi bagian dari layanan baru: sebagai sopir, teknisi, atau staf pendukung. Hal ini mengisyaratkan bahwa perubahan moda angkutan di Malang Raya bukan saja menyentuh mobilitas masyarakat, tapi juga nasib para pekerja angkutan tradisional.
Belum bisa dipastikan: apakah Trans Jatim kini akan menjadi “penyelamat ekonomi kecil” di sekitar terminal atau sekadar “pamer moda” tanpa dampak nyata bagi semua pedagang. Ekspektasi optimisme, kenyataan kelambatan infrastruktur, dan ketidakpastian adaptasi membuat masa depan ekonomi mikro di Malang Raya berada di persimpangan. Bagi mereka yang luwes bergerak dan punya daya tahan untuk menyesuaikan diri peluang bisa terbuka. Tapi bagi yang sudah nyaman di jalur lama, perubahan ini bisa berarti risiko.




