Viral Lewat Cerita Horor, Ternyata Desa Penari Ada di Ponorogo

Viral Lewat Cerita Horor, Ternyata Desa Penari Ada di Ponorogo, (foto: detikNews)
Viral Lewat Cerita Horor, Ternyata Desa Penari Ada di Ponorogo, (foto: detikNews)

PILIHANRAKYAT.ID, PONOROGO-‘Desa Penari’ menjadi teka-teki setelah cerita horor ‘KKN Desa Penari’ viral di media sosial. Dinarasikana dari akun Twitter @SimpleM81378523, cerita bernuansa mistis ini berhasil menarik perhatian publik.

Sekitar ada 14 mahasiswa-mahasiswi yang menggelar KKN di Kota B, pada 2009 akhir. Mereka merupakan mahasiswa-mahasiswi angkatan 2005/2006 dari sebuah perguruan tinggi di Kota S.

Namun dalam kisah tersebut hanya enam mahasiswa/mahasiswi yang menjadi tokoh utama lahirnya konflik. Ke enam mahasiswa-mahasiswi itu disamarkan dengan nama Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton, dan Bima. Dua di antaranya meninggal setelah melewati sederet hal mistis di tempat KKN tersebut. Desa Penari kemudian ramai dibicarakan masyarakat.

Usut punya usut ternyata di Ponorogo ada ‘Desa Penari’, namun desa ini tidak ada hubungannya dengan kisah mistis atau makhluk gaib.

Di ketahui, Ponorogo sarat dengan kesenian tradisional Reog, bahkan nama Ponorogo tak bisa lepas dari seni tarinya. Pemain dalam pertunjukan Reog mulai dari jathil, warok, kelono sewandono, bujang ganong dan pembarong memiliki gerakan tarian yang istimewa dan khas Ponorogo.

Baca juga  Front Nahdliyin Tolak Rencana Kehadiran Sandiaga di Pulau Garam

Tepatnya di Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Ponorogo. Desa ini disebut-sebut sebagai lokasi Kerajaan Bantarangin dan diyakini sebagai pencetus kesenian Reog. Di sana terdapat Monumen Bantarangin sebagai pengingat Sumoroto sebagai petilasan sebuah kerajaan. Dengan keyakinan tersebut, masyarakat Sumoroto memiliki semangat untuk terus melestarikan Reog.

“Tahun 1980-1990an, Sumoroto dikenal sebagai ‘gudangnya’ warok dan pembarong (penari pembawa dadak merak),” kata Wisnu selaku seniman dan penggiat budaya Reog, dilansir dari detikcom, Senin (9/9/2019).

Wisnu berkeyakinan, setiap desa atau kelurahan di Ponorogo memiliki penari. Menurutnya, Ponorogo yang terdiri dari 307 desa/kelurahan layak disebut sebagai Kota Penari. 

Baca juga  Kekeringan Melanda Magetan, 8.725 Warga Terdampak

“Dengan keyakinan tersebut, masyarakat Ponorogo bisa terus tekun berlatih demi menjaga kelestarian Reog di masa mendatang,” katanya.

“Sumoroto dikenal sebagai punjer (pusat) Reog, di sini ada penari, seniman sekaligus perajin Reog. Sumoroto bisa disebut sebagai ‘Desa Penari’,” imbuh Wisnu.

Alunan musik Reog tampak menggema di sudut Sanggar Kelas Seni Sabuk Janur yang berada di Desa Sumoroto. Puluhan murid dari berbagai usia tampak serius berlatih mengikuti arahan dari sang koreografer, Wisnu Hadi Prayitno.

Selaras dengan Wisnu, Sudirman pemilik Sanggar Kartika Puri, juga merasakan hal serupa. Sanggar yang berdiri sejak 1995 itu sudah mencetak beberapa generasi. Bahkan beberapa di antaranya ada yang menjadi pelatih dan penari profesional.

“Kami fokus di kesenian tari tradisional Ponorogo serta tari kreasi lain. Semua terus berkembang,” kata Sudirman.

Secara rutin setiap Sabtu dan Minggu, puluhan anak didiknya rutin berlatih. Apalagi jika ada event yang akan diikuti, latihan akan semakin rutin.

“Kami ingin mencetak kader di bidang seni tari tradisional Reog Ponorogo. Baik itu jathil, warok, bujangganong maupun kelono sewandono,” pungkasnya.

(Anwar/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *