Manusia-manusia Sampah di Tengah Hiruk Pikuk Naiknya BPJS

- Advertisement -

Oleh: Tabiatul

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan menjadi problem bagi masyarakat yang kurang mampu. Sebab, seluruh rakyat dipaksa manut pada aturan tersebut, bahkan penunggakan iuran BPJS Kesehatan akan diberi hukuman.

Pasalnya, semua itu untuk menyikapi defisit BPJS Kesehatan yang pada tahun 2018 sebesar Rp 16,5 triliun. Bahkan ada potensi pembengkakan defisit mulai Rp 39,5 triliun pada 2020 dan Rp 50,1 triliun pada 2021.

Jadi masih banyak yang belum mengerti terkait iuran BPJS, akan dikemanakan uang iuran yang dibayarkan oleh peserta, seluruh warga negara yang dipaksa membayar meskipun sesungguhnya kita adalah pelanggan BPJS dan seharusnya memiliki hak tawar?

Kabarnya, selain untuk keperluan membayar ongkos operasional BPJS kesehatan, iuran  tersebut akan digunakan untuk membayar Insentif Mismanajemen Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan yang tidak mampu mengelola BPJS secara efektif dan efisien sebesar Rp 32,88 miliar per- tahun untuk Direksi, dan sebesar Rp 17,73 miliar per tahun untuk insentif Dewan Pengawas BPJS.

Baca juga  Pemberian Miras ke Mahasiswa Papua Oleh Polwan Menuai Kontroversi

Mismanajemen itu juga menjadi pengaruh, sehingga iuran yang naik tersebut akan digunakan untuk membayar hutang jatuh tempo, obat, dan alat kesehatan. Jaminan Kesehatan Nasional yang per Juli 2018 belum dibayar BPJS Kesehatan sebesar Rp 3,5 triliun ke Industri farmasi, dan sejumlah besar dari nilai itu akan mengalir ke luar negeri karena obat yang diproduksi di Indonesia 95% bahan bakunya berasal dari luar negeri.

Baca juga  Sejarah Pram, Sebuah Imaji yang Jenius

Angka sebesar itu, kemungkinan belum termasuk untuk membayar paten obat yang mesti melalui uji klinis di pabrikan di Jerman, Prancis, Jepang, dan luar negeri lainnya. Sebab, kabarnya sampai hari ini, Indonesia belum memiliki laboratorium farmasi murni, dan untuk mewujudkan laboratorium tersebut, dianggap sangat sulit dan akan memakan biaya yang sangat mahal.

Tiba-tiba saya teringat Pramoedya Ananta Toer yang memotret masa kebangkitan Jepang di awal abad 20 yang ia tulis dalam buku ‘Anak Semua Bangsa’.

“Kemudian terbetik berita: Negeri Matahari Terbit, Negeri Kaisar Meiji itu berseru pada perantauannya, menganjurkan: belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapapun! ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apapun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal! belajar bekerjasama! bertekun dalam pekerjaan!”

Baca juga  Dinamika dan Upaya Penyelesaian Gejolak Papua

Atas kabar di atas, saya jadi kepikiran kenapa sebagian orang Indonesia seneng berheboh-heboh ria urusin disertasi yang membahas isu agama hingga offside sampai meminta Rektor Kampus tempat disertasi tersebut diuji untuk mundur.

Atas kabar tidak adanya laboratorium farmasi murni di Indonesia dan uji klinis untuk paten obat yang mesti dilakukan di luar negeri, mungkin ada benarnya pandangan yang menyatakan bahwa sebagus apapun disertasi atau penelitian akademik karya anak Indonesia, meskipun dipuji tetap tidak mendapat tempat untuk menjadi masukan kebijakan untuk kepentingan jangka panjang negara, termasuk keterikatan dengan sektor penguatan ketahanan negara.

Sehingga, saya juga coba mengamini kemungkinan bahwa tiap lembaga yang berotoritas untuk menetapkan kebijakan untuk menangani karut marut BPJS Kesehatan dan kaitannya dengan industri farmasi, termasuk DPR, Kementerian Industri, Kementerian Kesehatan, Manajemen Puncak BPJS, dan mungkin Manajemen Puncak Eksekutif RI adalah juga diisi oleh kumpulan manusia sampah.

Baca juga  Colombo Plan Sebagai Tempat Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

Kenapa sampah? sebab mereka memang tak berguna dan malah menimbulkan penyakit bagi kita.

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Kementrian ESDM Mengeluarkan Peta Rawan Bencana Gunung Semeru

PILIHANRAKYAT.ID, Dalam rangka mengurangi resiko bencana geologi khususnya akibat letusan Gunung Api Semeru, Badan Geologi, cq. Pusat...

Mendagri Minta Kepri Tetap Kendalikan Pandemi

PILIHANRAKYAT.ID, Batam - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah di Provinsi Kepulauan...

Sajak-sajak Salman Al-Madury

Rukun Rindu Setalah selesai menghitung waktujarak semakin merontaMenghendaki sebuah jumpa Maka...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...