News  

Boikot Trans7 Menggema di Media Sosial, Santri dan Alumni Pesantren Tuntut Permintaan Maaf

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Tagar #BoikotTrans7 mendadak ramai di jagat maya sejak awal pekan ini. Gelombang protes muncul setelah program investigasi XPOSE yang ditayangkan Trans7 menyoroti kehidupan di lingkungan pesantren dengan narasi yang dianggap melecehkan martabat santri dan ulama.

Dalam salah satu episodenya, program tersebut menampilkan potongan visual dan narasi yang menggambarkan santri dengan cara yang dinilai merendahkan. Salah satu yang memicu kemarahan publik adalah cuplikan yang menyebut “santri minum susu harus jongkok”, serta penggambaran kehidupan para kiai yang disertai komentar menyudutkan.

Reaksi keras datang dari berbagai kalangan pesantren. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kediri menyebut tayangan itu telah melanggar etika jurnalistik dan berpotensi mencederai kehormatan lembaga keagamaan. Mereka menilai narasi yang digunakan tidak berimbang dan tidak melibatkan konfirmasi dari pihak pesantren atau ulama yang disebut.

Baca juga  Kepada Nelayan Jember, Menteri Susi: Laut itu Warisan Bukan Milik Kita

“Kami menuntut Trans7 meminta maaf secara terbuka dan menarik tayangan tersebut dari seluruh platform digital,” kata perwakilan LBH Ansor Kediri Selasa (14/10).

Seruan boikot kemudian meluas ke berbagai grup pesantren, organisasi santri, hingga status WhatsApp masyarakat. Banyak yang menilai tayangan itu bukan sekadar kesalahan redaksi, tetapi bentuk ketidakpekaan media terhadap nilai-nilai moral dan budaya pesantren.

Baca juga  Film Terbaik, Aktor dan Aktris Terbaik Pemenang Golden Globes 2019

Beberapa tokoh publik juga turut mengkritik Trans7. Mereka menilai media televisi seharusnya lebih berhati-hati dalam mengangkat isu-isu keagamaan, terutama yang menyangkut simbol-simbol pesantren dan ulama.

Hingga kini, Trans7 belum memberikan klarifikasi resmi terkait tayangan tersebut. Di media sosial X dan Instagram, ribuan komentar dengan tagar #BoikotTrans7 terus bermunculan, menuntut permintaan maaf dan evaluasi internal di tubuh redaksi XPOSE.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *