Opini  

ISRA’ MI’RAJ : Solusi Unplug dan Healing Paling Tuntas Untuk Gen Z

PILIHANRAKYAT.ID, Memasuki akhir bulan Rajab , umat islam diseluruh penjuru dunia kembali memperingati Isra’ Mi’raj.Pada tahun ini , Peringatan Isra’ Mi’raj kali ini jatuh pada tanggal 16 Januari 2026, bertepatan pada 27 Rajab 1447 H. Bisa dikaji ulang Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa perjalanan spiritual yang dilakukan nabi.

Secara tekstual isra’ adalah perjalanan nabi muhammad SAW dari mekkah ke masjidil aqsha , Kata “Isra’” berasal dari bahasa Arab yang berarti “perjalanan malam”.

Sedangkan mi’raj adalah perjalanan nabi muhammad SAW dari masjidil aqsha ke sidratul muntaha ( tempat tertinggi dilangit). Kata “Mi’raj” berasal dari bahasa Arab yang berarti “naik” atau “pendakian”.

Peristiwa ini jika kita kaitkan dengan anak muda zaman sekarang atau bisa disebut dgn Gen Z bukan hanya sekedar perjalanan secara fisik saja melainkan pelarian dari tekanan hidup.

Mengapa peristiwa ini sangat relevan dengan Gen Z ? anak muda sekarang sering mengeluh stress , sehingga mereka berinisiatif untuk healing dan rehat sejenak .Menariknya isra’ mi’raj terjadi di tahun kesedihan atau bisa dibilang dgn amul huzni,istri tercinta nabi beserta pamannya meninggalkan beliau pada tahun itu .Saat dunia tak mendukung kita baik itu karena kegagalan atau lingkungan yg tk sesuai dgn ekspetasi , solusinya bukan lari dari kenyataan melainkan melakukan mi’raj secara spiritual menjauh sejenak dari keributan dunia untuk curhat pada sang pencipta itulah heeling yang paling tuntas.

Ada delapan hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut, pertama adalah ajaran untuk bersikap Tawaddhu’. Bagi Gen Z yang hidup di era haus validasi dan pamer pencapaian, ini adalah pengingat bahwa derajat tertinggi manusia di sisi Allah justru saat kita mampu merendahkan hati sebagai hamba.

Kedua, peristiwa pembekalan dakwah , sebagaimana ketika nabi ditimpa berbagai kesedihan dan cobaan sebelum beliau menerima kemuliaan , oleh karena itu kita harus sadar bahwa setipa tantangan hidup adalah latihan untuk membuat mental kita tangguh di masa depan kelak.

Baca juga  Wapres Gibran Digugat Rp125 Triliun karena Diduga Tak Punya Ijazah SMA

ketiga adalah teguh memegang prinsip.Saat nabi kembali dari mi’rajnya , beliau mendapatkan banyak cacian , nyinyiran dan dianggap tidak masuk akal oleh kafir Quraisy bahkan ada yang mengatakan ”Muhammad sudah gila”.

Di era gempuran media sosial dimana semua orang bebas berkomentar apa saja , anak muda sering terjebak Hoax dan Fomo , padahal masih belum diketahui apakah berita tersebut hoax atau relevan . Isra’ mi’raj mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada prinsip dan kebenaran yang kita yakini, meskipun lingkungan sekitar menganggap nya tidak relevan . kita perlu meneladani sahabat Abu Bakar as- Shiddiq : percaya pada nilai-nilai kebaikan ditengah gempuran tren yang toksik.

Keempat adalah, peristiwa ini mengajarkan kita untuk menerima pendapat orang lain. Nabi Muhammad menjadi imam bagi nabi-nabi terdahulu, sebuah simbol bahwa kebenaran harus diikuti tanpa melihat latar belakang usia atau jabatan seseorang.

Untuk Hikmah yang kelima mengingatkan kita pada keistemewaan Masjidil Aqsha . Sebagai Gen Z yang melek akan isu kemanusiaan , tempat in harus menjadikan Gen Z sebagai bentuk kepedulian terhadap perdamaian dunia.

Keenam, Nabi mengajarkan kita utuk memilih dan memilah hal – hal yang halal dan harom , seperti saat beliau lebih memilih susu dari pada khamr. Gaya hidup bebas masa kini bisa membuat kita merasa seperti sedang berlayar di laut lepas, tanpa arah dan tujuan, oleh karena itu menjaga kemurnian diri adalah bentuk proteksi mental yg kuat.

Untuk yang ketujuh ialah menjaga Sholat lima waktu . Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk melaksanak sholat 5 waktu. Sayangnya, banyak dari kalangan Gen Z yang seolah “menulikan telinga” saat panggilan shalat berkumandang karena terlalu sibuk dengan gadget.

Baca juga  Melayat Habibie dan Menyatakan Bangsa Ini Kehilangan Berlian, Amien Rais Kena Semprot Warganet

Sudah saatnya kita tidak memandang shalat sebagai beban spiritual saja, melainkan sebagai momen unplug dari notifikasi HP dan teknologi lainnya. Shalat adalah waktu di mana kita lepas sejenak dari aktivitas scrolling dan memfokuskan diri hanya kepada Allah. Ini adalah manajemen waktu dan mental paling efisien untuk menjaga kewarasan di dunia yang serba cepat.

Terakhir , peristiwa ini adalah Pemantapan level keyakinan. Dari hanya mendengar (ilmul yaqin) menjadi melihat langsung (‘ainul yaqin). Hal ini mengajarkan Gen Z untuk menjadi generasi yang memiliki prinsip dan keyakinan yang teguh yang berlandaskan pengalaman spiritual dan pemikiran yang kritis tidak hanya menelan informasi mentah-mentah saja.

Di era digital yang penuh dengan tekanan mental ini, kita seringkali lupa bahwa diri kita bukan sekadar profil di media sosial atau angka-angka dalam prestasi akademik. Peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan perspektif baru bahwa kesehatan mental yang sejati bermula dari kesehatan spiritual. Saat kita mampu menyeimbangkan antara ambisi duniawi dengan ketenangan batin melalui shalat dan sikap tawadhu, maka tekanan hidup yang tadinya terasa berat akanmenjadi lebih ringan untuk dijalani. Inilah esensi dari ‘perjalanan naik’ yang sebenarnya bagi setiap anak muda

Oleh karena itu, Isra Mi’raj bagi Gen Z adalah pengingat bahwa setinggi apa pun impian dan ambisi kita, kita tetap membutuhkan “kendaraan spiritual” supaya tidak kehilangan arah.

Sukses bukan hanya soal pencapaian karier atau validasi sosial, tapi sejauh mana kita mampu melakukan “perjalanan ke dalam” untuk memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Dengan memperbaiki hubungan ke langit, niscaya urusan kita di bumi akan menjadi lebih tenang dan terarah.

*Zumrotus Solihah (Mahasiswi STAI Nurul Qadim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *