PIIHANRAKYAT.Id, Kubu Raya -Temuan belatung dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 01 Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, mendapat sorotan dari Faisal, Co-Founder Pioner Kreatif Muda. Ia menilai kejadian tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele karena menyangkut kualitas, keamanan, dan kelayakan makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak.
Faisal mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi total terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat dalam penyediaan dan pendistribusian menu MBG tersebut.
“Temuan belatung dalam makanan anak-anak adalah persoalan serius. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh bagaimana sistem kerja SPPG, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi,” tegas Faisal.
Menurutnya, SPPG memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat memenuhi standar keamanan dan kelayakan pangan. Karena itu, setiap persoalan yang ditemukan di lapangan harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan menyeluruh, bukan hanya penyelesaian secara administratif.
“BGN jangan hanya mengevaluasi ketika ada kasus yang mencuat ke publik. Sistem pengawasan harus diperiksa secara total. Bagaimana standar kebersihannya, bagaimana bahan bakunya diperiksa, bagaimana proses memasaknya, bagaimana makanan disimpan dan bagaimana sampai ke sekolah,” ujarnya.
Faisal juga meminta BGN memastikan adanya pemeriksaan terhadap seluruh rantai operasional SPPG. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar kelemahan dalam sistem dapat segera diketahui dan diperbaiki.
Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak boleh berhenti pada satu kejadian atau satu unit SPPG saja. Menurut Faisal, persoalan keamanan makanan dalam program MBG berpotensi terjadi di berbagai daerah apabila sistem pengawasan dan kontrol mutu tidak diperkuat.
“Kasus ini harus menjadi alarm bagi BGN. Jangan menunggu kejadian serupa muncul di daerah lain baru kemudian bertindak. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh terhadap SPPG, terutama menyangkut standar operasional, pengawasan, kebersihan, kualitas bahan baku dan distribusi,” katanya.
Selain evaluasi, Faisal mendorong adanya tindakan tegas apabila pemeriksaan menemukan kelalaian atau pelanggaran terhadap standar yang telah ditetapkan. Ia menilai pertanggungjawaban harus diberikan secara proporsional berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Kalau ditemukan kelalaian, harus ada pertanggungjawaban dan sanksi sesuai ketentuan. Jangan sampai persoalan seperti ini selesai hanya dengan permintaan maaf. Yang lebih penting adalah memastikan sistemnya diperbaiki agar tidak terulang,” tegasnya.
Faisal menambahkan, program MBG memiliki tujuan strategis dalam mendukung pemenuhan gizi anak-anak. Karena itu, kualitas pelaksanaan di lapangan harus mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan target penyaluran.
“Programnya baik, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar dijaga. Jangan sampai tujuan meningkatkan gizi anak justru terganggu karena lemahnya pengawasan. Kami mendesak BGN melakukan evaluasi total SPPG dan memastikan seluruh proses penyediaan makanan memenuhi standar keamanan dan kelayakan,” pungkas Faisal.




