Opini  

Gerakan Kiri Islam

Gerakan Kiri Islam, (Foto: Balairungpress)
Gerakan Kiri Islam, (Foto: Balairungpress)

Oleh: Tan Hamzah

PILIHANRAKYAT.ID,-Dalam agama islam kita tidak akan menemukan sekat atau pembagian antara kiri dan kanan, konotasi/istilah kiri biasanya digunakan dalam perpolitikan, ideologi maupun gerakan sosial yang kritis. Pada mulanya istilah kiri lahir, karena persaingan di parlemen eropa, kiri mempresentasikan sebagai golongan yang kritis, menolak segala peraturan yang mengekang dan mendiskriminasi manusia dalam hak sosial, dan implementasinya ialah pembebasan mutlak. Dalam islam, gerakan kiri pernah dicetuskan oleh Hassan Hanafi, ia menerbitkan majalah dengan judul “Kiri Islam”. Sasarannya tentu pemerintah yang dianggap otoriter dan tidak memerhatikan kepentingan rakyat, Hassan Hanafi kemudian ditangkap karena dianggap menghina nilai-nilai islam, dan memprovokasi supaya terpecah-pecah, ketika itu Mesir dipimpin oleh Anwar Sadat.

Selain Hassan Hanafi, nama lain yang mempunyai pemikiran tentang pembebasan hak sosial dalam islam yaitu, Ashgar Ali Enginer, Ali Syariati, Arkoun, Murtadha Mutaharriri, Fazlur Rahman dan lain sebagainya.

Baca juga  DK Trans dan PAC Ansor Gelar Turnamen Tenis Meja di Krucil

Saat ini wacana kiri islam, sebagai gagasan agar terbebas dari teks dan tradisi yang tidak menguntungkan banyak dikaji, tafsir alternatif dan pembaruan ini bertujuan agar islam yang kita anut lebih menyesuaikan pada kondisi sosial, kritik ini memang tidak bisa langsung diterima, dan banyak yang menyangga sehingga muncul kontroversi, seperti kasus yang terbaru, kajian pemikiran Muhammad Syahrur tentang seks.

Baca juga  Gus Dur: Ajak Seluruh Elemen Untuk Muhasabah Diri, Termasuk KPK

Tradisi kritik diantara ulama dan pemikir islam sudah sering terjadi, seperti Ibn Rusyd dan Al-Ghazali yang saling bantah lewat karya-karyanya. Pemikir perempuanpun juga ikut berkontribusi dalam kajian tentang keislaman, seperti Nawal el-Shadawi dan Fatima Mernissi. Mereka mengkritik kekauan teks yang telah lama tidak ditafsirkan ulang, dan lebih bersifat maskulinitas.

Kita mencoba refleksi ke arah modern saat ini, apakah kiri islam sebagai pengkritik tentang kondisi umat Islam dan teks masih berjalan, gerakan umat Islam dalam mengkritik penguasa yang menghegemoni hukum seperti revolusi Iran. Akankah terulang lagi, atau hanya sebagai wacana tanpa aksi nyata seperti gerakan Hizbut Tahrir atau FPI di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *