Opini  

Habibie: Antara Indonesia dan Ilona

Habibie: Antara Indonesia dan Ilona, (foto: POPBELA.com)
Habibie: Antara Indonesia dan Ilona, (foto: POPBELA.com)

Oleh: Tan Hamzah

PILIHANRAKYAT.ID,-Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3 yang baru saja meninggal dunia, menyisakan lukisan sejarah yang begitu unik, kisah cinta dan perjuangannya demi membangun Indonesia. B.J. Habibie memimpin Indonesia selama 8 bulan, beliau diangkat menjadi presiden, setelah aktivis dan tokoh politik menggulingkan kekuasaan orde baru di bawah pimpinan Soeharto. Kisahnya tentang memimpin negeri dan sebagai tokoh akademisi intelektual berbanding terbalik, Habibie begitu sukses sebagai mekanik, dan mampu menciptakan kereta di Jerman dan pesawat terbang di Indonesia. Namun pesawat terbang yang diciptakan Habibie mengalami masalah finansial dan tidak dilanjutkan sampai saat ini. Karir politik Habibiepun tidak mulus, ia sempat menjadi wakil presiden Indonesia, sebelum menjadi presiden Indonesia pada 1998, ia hanya sempat memimpin selama 8 bulan, dan selama itu ia banyak menemukan konflik, seperti dituduh sebagai penerus orde baru, tidak bisa menyelesaikan kasus HAM, sampai lepasnya Timor-Timor. Habibie juga sempat menjadi menteri riset dan teknologi (Menristek) pada tahun 1978-1998.

Peninggalan Habibie dalam dunia akademik dan mekanik yaitu pesawat N-250 yang diluncurkan tahun 1995, tapi proyek ini terhenti setelah Indonesia mengalami krisis moneter (ekonomi) tahun 1997-1998. Tetapi Habibie mewariskan suatu teori yang sampai saat ini digunakan dalam pembuatan pesawat di seluruh dunia, teori itu diberi nama crack progression. Dihimpun dari Saintif, teori crack progession merupakan teori yang dipakai untuk memperkirakan titik awal retakan di sayap pesawat terbang. Permasalahan ini cukup serius, sehingga banyak terjadi kecelakaan pesawat pada saat itu, dengan teori Habibie, masalah itu dapat dipecahkan.

Baca juga  Perempuan Perspektif Al-Qur’an

Proses menentukan hasil, begitulah ungkapan yang menggambarkan Habibie. Habibie muda dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas, kreatif dan tidak berhenti berusaha. Habibie juga pernah menyatukan Perhimpuan Pelajar Indonesia (PPI) di Eropa untuk mengadakan seminar pembangunan Industri Penerbangan Indonesia ke depan yang diadakan di Aachen.

Ada wanita dibalik suksesnya Habibie di Jerman, ia teman paling setia dan yang paling mendukung cita-cita Habibie, yaitu Ilona Ianovska. Ilona merupakan wanita keturunan Jerman-Polandia, dia fasih berbahasa Indonesia dengan aksen polandia. Ia sangat mencintai Indonesia karena pernah dirawat oleh perawat asal Ambon, Maluku. Ilona kenal dengan Habibie di salah satu pesta yang biasa diadakan oleh orang Indonesia di Jerman, dan Ilona sering ke acara tersebut karena rasa ingin tahu tentang Indonesia.

Ilona Ianovska menjadi teman yang hangat dalam berdiskusi, pada mulanya Ilona dan Habibie bertukar pendapat tentang puisi Goethe, salah satu filuf dan Penyair terkenal di Eropa, kemudian mereka saling bertemu, dan Habibie menyampaikan mimpinya tentang Indonesia pada Ilona. Wanita itu begitu special bagi habibie, ia pernah mengungkapkan “Ada gadis Jerman yang mendapat perhatian khusus dari saya, dia bernama.. Ah nanti tahu sendiri. Dia namanya Ilona,” ujar Habibie dalam acara Mata Najwa on Stage di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu (29/4/2015). “Matanya biru. Mungil. It’s okay,” kata dia sembari tersipu.

Baca juga  Rapimnas IKASUKA: Kurangi Kesenjangan Ekonomi, Rawat Kebhinnekaan Bangsa

Habibie mengaku dirinya pernah pergi nonton teater dan musik bersama perempuan tersebut. Meski demikian, ia tidak pernah terganggu dan tetap fokus dalam pendidikan maupun pekerjaannya.

Meskipun pada akhirnya, Ilona bukanlah pilihan Habibie, namun Ilona pernah ada di hidup Habibie, perbedaan banyak merintangi keduanya, meski begitu dua bait lagu dalam soundtrack film “Rudy Habibie” menggambarkan betapa tragis akhir kisah cinta mereka

Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepaskan kau pergi

Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati

Habibie harus memilih antara Indonesia dan Ilona, meski berat. Tetapi begitulah cinta manusia, yang menurut Plato semua pangkal cinta manusia ialah cinta pada tuhan. Mereka berpisah dan Habibie memilih Indonesia beserta Ainun. Pesan terakhir Ilona yang cukup membuat Habibie tergetar yaitu “Aku mencintaimu Rudy, bahkan jika aku harus pindah agama dan pindah agama demi mu aku rela. Tapi apakah kamu pantas menerima pengorbananku ini ? apakah cintamu sebesar cintaku padamu? namun kamu lebih mencintai negara mu, Rudy”. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *