PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku optimis, pelaksanaan Making Indonesia 4.0 mampu mendorong perbaikan dan revitalisasi sektor manufaktur nasional.
“Industri 4.0 membuka kesempatan untuk merevitalisasi sektor manufaktur lewat percepatan inovasi, penciptaan nilai tambah, serta peningkatan produksi, kualitas dan efisiensi,” kata Airlangga saat menjadi pembicara pada diskusi panel Industrial Transformation Asia-Pacific (ITAP) 2018 di Singapura, Selasa (16/10/2018) kemarin seperti dikutip dari siaran pers Kemenperin.
Untuk penerapan awalnya, kata dia, peta jalan tersebut berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.
“Kelima sektor industri itu telah berkontribusi sebesar 60 persen untuk PDB, kemudian menyumbang 65 persen terhadap total ekspor, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” imbuhnya.
Baca: Hadapi Transformasi Industri 4.0, Indonesia Siap Jadi Penopang Utama Asia
Menurut Ketua Umum Partai Golkar itu, efisiensi operasional di sektor industri akan membuka potensi pada pertumbuhan produktivitas. “Untuk memanfaatkan peluang ini, perlu didukung dengan penggunaan teknologi terkini dalam proses produksi,” tutur Airlangga.
Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Penguasaan teknologi tersebut menjadi penentu daya saing industri.
Di era digital, aktivitas sektor manufatur tidak lagi sekadar melibatkan mesin dalam proses produksinya. Saat ini, beberapa pabrikan sudah melompat lebih jauh, yakni memadukan dengan internet of things (IoT) atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang menjadi ciri dari industri 4.0.
“Oleh karena itu, untuk mendukungnya, diperlukan jaringan internet dengan kecepatan tinggi, teknologi cloud, data center, security management dan infrastruktur broadband,” sebut Airlangga.
Menurutnya, Indonesia punya potensi dan peluang yang baik untuk bertransformasi ke arah ekonomi digital tersebut. Saat ini yang sudah dilakukan oleh pemerintah setelah meluncurkan Making Indonesia 4.0, antara lain memacu investasi untuk meningkatkan kapabilitas manufaktur dan pembangunan infrastruktur digital, mengikutsertaan industri kecil dan menengah (IKM) serta mendorong pembangunan pusat teknologi dan inovasi.
“Namun demikian, talents merupakan kunci kelancaran implementasi Making Indonesia 4.0,” tegas Menperin.
Untuk itu, pemerintah mengambil langkah strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan industri dan membangun teknologi digital melalui program pendidikan vokasi. “Kami sudah luncurkan mulai dari tingkat SMK hingga politeknik lewat program link and match dengan industri,” jelasnya.
Melalui Making Indonesia 4.0, Indonesia juga berupaya mereformasi kurikulum pendidikan, melibatkan industri melalui program silver expert, dan memberikan fasilitas insentif fiskal. Untuk kurikulum, ditekankan pada pengajaran bidang Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics (STEAM). “Upaya up-skilling dan reskilling SDM menjadi mutlak dalam meningkatkan kapabilitas industri agar dapat memanfaatkan teknologi digital,” kata Airlangga.
Editor: Didik Hariyanto





