Daerah  

Dua Profesi, Satu Jalan Khidmah: Nakes dan Advokat Total Mengabdi Bersama Banser Ansor Kraksaan

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pengabdian kepada Nahdlatul Ulama (NU) dapat berjalan beriringan dengan profesi. Hal itu ditunjukkan Dwi Adi Hartoko dan Pradipto Atmasunu, dua kader Banser PC GP Ansor Kraksaan yang tetap aktif berkhidmah di tengah kesibukan profesional masing-masing.

Dwi Adi Hartoko sehari-hari berprofesi sebagai tenaga kesehatan (nakes) di salah satu puskesmas. Di lingkungan PC GP Ansor Kraksaan, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komandan Banser.

Sebagai nakes, Dwi terbiasa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sementara sebagai Komandan Banser, ia dituntut siap menjalankan tugas organisasi, termasuk menggerakkan dan mengoordinasikan personel Banser dalam berbagai kegiatan.

“Bagi saya, menjadi tenaga kesehatan dan menjadi Banser sama-sama merupakan bentuk pengabdian. Di satu sisi saya mengabdi kepada masyarakat melalui profesi, di sisi lain saya berkhidmah kepada NU melalui Banser,” ujar Dwi.

Baca juga  Harlah NU, Kader NU Tambelang Harus Semakin Maju

Menurut Dwi, menjadi Banser bukan hanya soal mengenakan seragam. Ada tanggung jawab, kedisiplinan, loyalitas, dan kesiapan untuk hadir ketika organisasi maupun masyarakat membutuhkan.

“Banser mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang kedisiplinan, kebersamaan dan tanggung jawab. Prinsipnya, selama masih mampu dan dibutuhkan, saya siap memberikan tenaga dan waktu untuk NU,” katanya.

Sementara itu, Pradipto Atmasunu menjalani profesi sebagai advokat. Di tubuh Banser PC GP Ansor Kraksaan, ia mendapat amanah sebagai Kepala Kesekretariatan Markas (Kasetma).

Aktivitas sebagai advokat membuat Pradipto memiliki kesibukan tersendiri. Namun, kesibukan tersebut tidak menjadi alasan untuk meninggalkan tanggung jawab organisasi.

“Profesi adalah bagian dari tanggung jawab kita, sementara berkhidmah kepada NU adalah pilihan pengabdian. Keduanya bisa berjalan bersama selama kita mampu mengatur waktu dan memegang amanah dengan baik,” kata Pradipto.

Baca juga  Sawah Tergenang, Ketahanan Pangan Jawa Tengah Terancam

Bagi Pradipto, Banser menjadi ruang untuk mengasah kepedulian sosial dan membangun kebersamaan. Ia memandang pengabdian tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak waktu luang.

“Jangan menunggu punya banyak waktu untuk berkhidmah. Justru kita harus belajar menyediakan waktu di tengah kesibukan. Karena pengabdian itu membutuhkan keikhlasan, konsistensi dan rasa tanggung jawab,” ujarnya.

Dwi dan Pradipto datang dari dunia profesi yang berbeda. Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam memilih jalan pengabdian melalui Banser PC GP Ansor Kraksaan. Bagi mereka, profesi dan khidmah bukan dua hal yang harus dipisahkan, melainkan dua tanggung jawab yang dapat berjalan beriringan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *