PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Kondisi cuaca di Jawa Timur pada Minggu, 20 September 2026, masih dipengaruhi musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada dalam kondisi relatif kering, meski peluang hujan tetap ada secara lokal.
Dalam prakiraan sepekan periode 18–24 September 2026, BMKG menyatakan pesisir utara Jawa Timur termasuk wilayah yang berpotensi mendapat pengaruh aktivitas Gelombang Kelvin. Fenomena atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Namun, secara umum kondisi kering masih mendominasi Jawa Timur. Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur mencatat pada pemantauan 10 September, sebagian besar wilayah Jatim mengalami hari tanpa hujan dalam kategori kekeringan ekstrem, yakni lebih dari 60 hari. Curah hujan pada dasarian pertama September juga berada dalam kategori rendah.
BMKG sebelumnya memprakirakan periode 11–20 September 2026 di Jawa Timur masih didominasi curah hujan rendah, dengan peluang lebih dari 90 persen untuk curah hujan di bawah 50 milimeter. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa musim kemarau masih memberikan pengaruh kuat di wilayah ini.
Di wilayah perairan, kondisi juga perlu diperhatikan. Prakiraan BMKG untuk perairan Surabaya–Bangkalan pada Minggu menunjukkan cuaca cerah berawan hingga berawan tebal, dengan angin dari arah tenggara hingga timur. Tinggi gelombang diprakirakan sekitar 0,5–0,9 meter atau kategori rendah.
Sementara di Samudra Hindia selatan Jawa Timur, BMKG memprakirakan kondisi berawan dengan tinggi gelombang sekitar 2,4 meter. Kondisi tersebut masuk kategori gelombang sedang sehingga masyarakat yang beraktivitas di laut perlu memperhatikan informasi cuaca maritim terbaru.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai perubahan cuaca lokal meski Jawa Timur masih berada dalam periode kemarau. Hujan ringan hingga sedang dapat terjadi secara setempat, termasuk kemungkinan disertai petir dan angin kencang.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta potensi kebakaran lahan. Informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca sebaiknya dipantau melalui kanal resmi BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah dalam waktu singkat.




