Opini  

Tapis Negeri Katon: Ketika Tradisi Harus Berani Berinovasi

PILIHANRAKYAT.ID, Lampung-Kerajinan tapis di Desa Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung, memperlihatkan satu kenyataan penting: warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan. Ia harus terus dihidupkan. Di tengah perubahan selera konsumen dan persaingan industri kreatif, tapis dituntut bukan hanya tetap autentik, tetapi juga mampu menemukan cara baru untuk hadir di tengah masyarakat.

Tapis selama ini dikenal sebagai bagian dari identitas budaya Lampung. Di balik setiap motif dan sulaman terdapat keterampilan yang diwariskan lintas generasi. Di Negeri Katon, tradisi membordir dan memproduksi tapis telah berlangsung sejak sekitar 1980. Sebagian besar pengrajinnya adalah perempuan, terutama ibu rumah tangga. Bagi mereka, membuat tapis bukan sekadar pekerjaan sambilan, melainkan ruang untuk mempertahankan pengetahuan budaya sekaligus menambah pendapatan keluarga.

Namun warisan budaya menghadapi persoalan ketika berhadapan dengan logika pasar. Produk tekstil bermotif cetak dapat dibuat secara massal dengan harga lebih murah. Tapis yang dikerjakan secara manual tentu sulit bersaing jika ukurannya hanya harga. Karena itu, keunggulan tapis harus diletakkan pada sesuatu yang tidak mudah ditiru mesin: keaslian, keterampilan, cerita, identitas budaya, dan kreativitas pengrajinnya.

Lestarikan tradisi Tapis Negeri Katon

Di sinilah inovasi menjadi penting. Inovasi tidak berarti mengganti tapis dengan sesuatu yang sama sekali baru. Justru sebaliknya, inovasi dapat menjadi cara agar tradisi tetap memiliki tempat dalam kehidupan modern. Motif tradisional dapat dikembangkan dalam desain yang lebih sesuai dengan selera konsumen. Tapis dapat hadir bukan hanya sebagai kain, tetapi juga sebagai bagian dari fesyen, aksesori, dan berbagai produk kreatif lainnya.

Perubahan tersebut membutuhkan keberanian untuk keluar dari cara pandang lama. Produk yang bagus belum tentu dikenal luas apabila tidak memiliki identitas yang kuat. Pengrajin perlu memahami pentingnya merek, kemasan, dokumentasi visual, penentuan harga, hingga cara menceritakan produk kepada konsumen. Tapis bukan sekadar barang yang dijual. Ia membawa cerita tentang perempuan pengrajin, proses pengerjaan, motif, sejarah, dan kebudayaan Lampung.

Baca juga  Wasekjen PBNU Berharap MKNU Menjadi Penggerak Gerakan Nasional Revolusi Mental

Teknologi digital membuka ruang yang semakin luas untuk menyampaikan cerita tersebut. Media sosial, marketplace, katalog digital, dan berbagai kanal pemasaran dapat menjadi etalase baru bagi Renda Tapis Pesawaran. Konsumen tidak lagi hanya membeli produk, tetapi juga mencari pengalaman dan cerita di balik produk. Di titik ini, kemampuan pengrajin membangun narasi budaya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan sulaman yang berkualitas.

Karena itu, pemberdayaan pengrajin tidak cukup berhenti pada pelatihan membuat produk baru. Mereka juga membutuhkan kemampuan mengelola usaha. Perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pengelolaan persediaan, hingga perencanaan pengembangan usaha merupakan bagian dari mata rantai yang menentukan keberlanjutan industri tapis.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan tapis seharusnya tidak dibebankan kepada pengrajin seorang diri. Pemerintah desa, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga pendukung ekonomi kreatif memiliki peran masing-masing. Pengrajin membutuhkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, promosi, pembiayaan, dan pasar. Tanpa ekosistem semacam itu, inovasi mudah berhenti sebagai proyek sesaat.

Program Pengabdian kepada Masyarakat DIPA FISIP Universitas Lampung Tahun 2026 melalui kegiatan Pemberdayaan Pengrajin Tapis di Desa Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Melalui Penguatan Inovasi Produk dan Manajemen Usaha menjadi salah satu bentuk intervensi yang relevan dengan persoalan tersebut. Program yang dilaksanakan oleh Moh. Nizar, S.IP., M.A. dan Indra Jaya Wiranata, S.IP., M.A. itu menempatkan inovasi produk dan penguatan manajemen sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengrajin.

Tetapi keberhasilan pemberdayaan tidak semestinya diukur hanya dari terlaksananya pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kegiatan berakhir. Apakah muncul produk baru? Apakah pencatatan usaha menjadi lebih tertib? Apakah pemasaran digital benar-benar berjalan? Apakah pasar bertambah? Dan yang paling penting, apakah pengrajin memperoleh posisi tawar yang lebih baik atas produk yang mereka hasilkan?

Baca juga  Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset untuk Memerangi Korupsi di Indonesia

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pemberdayaan bukan sekadar memberikan keterampilan, melainkan membangun kemampuan masyarakat untuk menentukan masa depan usahanya sendiri. Pendampingan berkelanjutan, evaluasi, pengembangan desain, dan perluasan jejaring pasar harus menjadi bagian dari proses setelah pelatihan selesai.

Negeri Katon memiliki modal yang tidak dimiliki semua desa: tradisi yang hidup dan keterampilan yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Modal itu akan kehilangan nilai ekonomi apabila tidak diikuti kemampuan membaca perubahan zaman. Sebaliknya, modernisasi tanpa akar budaya juga berisiko menghilangkan karakter yang membuat tapis berbeda dari produk tekstil biasa.

Karena itu, masa depan tapis tidak terletak pada pilihan antara tradisi dan modernitas. Keduanya justru perlu dipertemukan. Tradisi memberikan identitas, kreativitas menghadirkan pembaruan, manajemen menjaga keberlanjutan, sedangkan teknologi membuka akses menuju pasar yang lebih luas.

Desa kreatif pada akhirnya bukan desa yang sekadar mempertahankan produk lama. Desa kreatif adalah ruang tempat masyarakat mampu mengubah pengetahuan dan kebudayaan menjadi nilai tambah tanpa kehilangan akar identitasnya. Dalam konteks Negeri Katon, tapis dapat menjadi titik temu antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi.

Jika proses tersebut dilakukan secara konsisten, Renda Tapis Pesawaran tidak harus berhenti sebagai simbol kebanggaan Lampung. Ia dapat tumbuh sebagai produk ekonomi kreatif yang lahir dari tangan masyarakat, membawa cerita tentang kebudayaan, sekaligus membuka peluang penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi para pengrajinnya. Di situlah tradisi benar-benar hidup: bukan hanya ketika dikenang, melainkan ketika masih mampu memberi makna dan penghidupan bagi generasi yang menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *