PILIHANRAKYAT.ID, Jawa Barat-Provinsi Jawa Barat memasuki musim hujan 2025 dengan kecemasan yang tak lagi samar. Alih-alih menjadi penyejuk, hujan justru kembali mengingatkan bahwa alam bisa berubah menjadi ancaman. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan status siaga darurat bencana untuk seluruh 27 kabupaten/kota sepanjang 2025–2026 sebuah keputusan yang memotret betapa rapuhnya kawasan ini menghadapi cuaca ekstrem.
Status siaga itu merangkum ancaman dari banyak penjuru: hujan lebat, banjir, gelombang tinggi, abrasi pesisir, hingga bencana yang paling sering menghantam Jabar tanah longsor dan pergerakan tanah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat 343 kejadian longsor terjadi sejak awal tahun hingga 27 Oktober 2025. Angka itu belum menutup tahun, namun cukup menggambarkan eskalasi bahaya.
Peringatan paling keras tertuju pada wilayah-wilayah berlereng terjal dengan kondisi geologi labil. Otoritas mencatat 11 kabupaten berada dalam kategori kerawanan menengah hingga tinggi: Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat, Garut, Sumedang, Subang, Kuningan, Ciamis, dan Tasikmalaya. Daerah-daerah ini memiliki pola yang sama—curah hujan intens, kontur perbukitan, dan tekanan pembangunan yang terus merangsek ke kawasan rawan.
Keputusan pemerintah meningkatkan kewaspadaan berkelindan dengan prakiraan BMKG yang menunjukkan potensi puncak hujan lebat pada akhir 2025 hingga awal 2026. Setiap curah hujan ekstrem dipandang sebagai pemicu dominan longsor, seperti yang terjadi pada 15 Maret 2025 ketika hujan deras memicu longsor serentak di sejumlah titik dan membuat ratusan warga terdampak. Peristiwa itu bukan anomali, melainkan bagian dari tren bencana hidrometeorologi yang semakin sering hadir di provinsi ini.
Ancaman longsor bukan sekadar tanah yang meluruh dari tebing. Ia bisa bergeser menjadi krisis kemanusiaan: pemukiman rusak, jalan terputus, ribuan warga mengungsi, hingga hilangnya tempat tinggal dalam hitungan menit. Karena itu pemerintah menyerukan kewaspadaan berlapis, terutama bagi warga di lereng dan perbukitan. Masyarakat diminta aktif memantau kondisi tanah saat hujan berkepanjangan, dan melakukan evakuasi mandiri bila mendengar suara gemuruh atau melihat retakan tanah.
Selain kedaruratan, tekanan justru berada pada mitigasi jangka panjang. Pengaturan tata ruang, pelestarian vegetasi penahan tanah, hingga pembatasan pembangunan sembarangan terus diingatkan. Tanah Jawa Barat, yang mudah terguncang akibat perubahan struktur lahan, tak lagi mampu menahan beban alih fungsi yang tak terkendali.
Jawa Barat kini berada pada garis tipis antara kesiapsiagaan dan kesadaran. Setiap hujan yang turun di Bogor, Sukabumi, Bandung Barat, Garut, hingga lereng-lereng Cianjur, Kuningan, dan Tasikmalaya tak lagi sekadar fenomena alam. Ada potensi longsor, pergerakan tanah, dan risiko bagi rumah, jalan, dan nyawa. Yang dibutuhkan bukan hanya status siaga darurat, tetapi kewaspadaan kolektif. Sebab di setiap tetes hujan, selalu ada benih bencana yang menunggu pecah.




