Opini  

Merayakan Sepak Bola (Politik Ideologi)

Ideologi Bola (foto: ist)
Ideologi Bola (foto: ist)

(Tan Hamzah)

PILIHANRAKYAT.ID, Sepakbola adalah permainan yang bisa menjadi cermin bagi kehidupan, lewat sepakbola kita bisa dengan mudah memahami konflik ekonomi-politik, sampai kekuasaan, kurang lebih seperti itu apa yang telah di ucapkan Gus Dur. Memahami sepakbola rasanya seperti menelaah kehidupan, ada kalanya menang, kalah, proses, dan juga filosofi mendasar tentang cara memahami sepakbola, ada juga tangis dan tawa juga konsekuensi dan kegelisahan. Dalam hal sepakbola dan kehidupan, banyak contoh yang mampu mengkorelasikan sepakbola, seperti negara-negara yang dijalankan dengan sistem autokrasi seperti Italia di era pra perang dunia ke II, Uni Soviet dan Jerman Timur di masa perang dingin dan juga Argentina di bawah cengkraman Jendral Videla, Sepakbola digunakan sebagai alat untuk kekuasaan tertentu.

Tentu, sepak bola bukan hanya sekedar pertarungan di atas lapangan hijau saja, sebuah klub pasti memiliki kelompok pendukung atau supporter yang membela kebanggannya apapun yang terjadi bahkan sampai rela mati. Sepak bola seperti ditakdirkan bukan sekedar olahraga, seperti di Inggris sepak bola merupakan ritual dan hiburan, tak heran jika para supporter di Inggris menganggap klub kebanggaannya adalah agama bagi mereka dan stadion merupakan gereja, begitupun kelompok supporter Arema Malang yang dikenal dengan Aremania menganggap bahwasannya Arema adalah agama kedua bagi mereka.

Sepakbola di Spanyol dan Italia merupakan politik, Real Madrid adalah klub dengan basis supporter fanatik yang dihuni para ultras kanan yang fasis dengan nama Ultras Sur, sementara Barcelona dan kelompok ultrasnya yang berhaluan kiri yang bernama Boixos Nois adalah bentuk perlawanan rakyat Catalunya yang identik dijajah oleh Spanyol (Real Madrid). Sedangkan di Italia sendiri pertikaian politik dan kelompok-kelompok fasis sudah tumbuh subur sejak dulu, maka para tifosi (supporter) klub-klub di Italia secara sadar membawa atribut politik ke dalam tribun stadion, hal yang sangat wajar bentrokan fisik antar tifosi juga sering terjadi, terutama klub-klub yang mempunyai basis supporter yang sangat fanatik seperti Juventus (Drughi), Inter Milan (Curva Nord 69), Lazio (Irriducibilli), AS Roma (Roma Boys) dan masih banyak yang lainnya, mereka mayoritas dihuni para tifosi garis keras nan fasis.

Baca juga  Gus Irfan, Figur Tepat Pimpin Kementerian Haji dan Umrah

Selain adanya kelompok supporter yang berpaham fasisme, ada juga kelompok supporter yang anti terhadap fasisme yaitu Antifa, merupakan penggabungan kata antara “anti” dan “fasis” yang didirikan oleh Marcus Pacheco pada tahun 1988, organisasi tersebut merupakan perlawanan yang dilakukan oleh kaum Skinhead di Inggris terhadap rasisme dan fasisme, paham Antifa dalam sejarahnya di adopsi dari subkultur punk, yaitu sebuah golongan yang menamakan kelompok mereka itu dengan “Skinheads Against Racial Prejudice” atau anak-anak skinhead yang anti kepada prasangka rasial. Ultras sepakbola Antifa ini juga bisa disebut dengan paham sosialis-komunis, mereka juga menumpahkan militansi di aksi-aksi massa yang menentang pemerintahan.

Baca juga  Sepak Bola Masuk Ruang Publik, TVRI Jatim Gelar “Kick Off Bola Gembira”

Di Eropa ada beberapa klub dan supporter yang memiliki paham Antifa dan sering dinobatkan sebagai supporter sayap kiri paling militan. Di Italia di tengah menjamurnya paham fasisme dikalangan tifosi ultras di Italia, ada benteng terakhir komunisme yaitu Brigate Autonome Livornesi yang merupakan kelompok ultras dari klub di pantai barat Italia yaitu Livorno, mereka merupakan benteng terakhir komunisme di Italia, tidak heran memang, karena kelahiran Partai Komunis Italia pertama memang berdiri di Livorno pada tahun 1921.

Di Jerman ada ST Pauli yang merupakan klub nomor dua di Hamburg setelah Hamburg SV, hal yang menarik dari kalangan supporter ST Pauli ini adalah selain menentang fasisme, mereka juga anti dengan sikap homofobia, seksisme, dan rasisme. Di Spanyol ada Rayo Vellecano yang merupakan distrik Vallecas yaitu bagian dari kota Madrid, akan tetapi distrik ini dipenuhi oleh orang miskin, tunawisma, pelacur, hingga imigran, tentu sangat jomplang jika dibandingkan dengan Real Madrid yang merupakan klub glamor nan kaya raya. Di daerah Britania Raya tepatnya di Skotlandia terdapat klub yang bernama Glasgow Celtic yang mempunyai supporter bernama The Green Brigade yang menganut paham sosialis akut, mereka pernah membentangkan banner bertuliskan “Yerussalem adalah Palestina, persetan dengan Trump”. Yang lebih menarik dari paham sosialis-komunis atau juga bisa disebut Antifa ini yang menentang fasisme dan rasisme adalah Hapoel Tel Aviv yang merupakan klub asal Israel, klub dan supporter dari Hapoel Tel Aviv ini memiliki ideologi komunis yang kental, tak heran jika supporter mereka sering membentangkan hand banner Che Guevarra, dan tak ayal klub tersebut memiliki kebijakan dari tahun 1970 untuk selalu merekrut pemain berdarah Palestina dengan pesan mereka menolak aksi pencaplokan wilayah Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *